Karangan Bebas

Bulan Tak Pernah Bertanya Apakah Malam Kesepian

Bulan tak pernah bertanya, apakah malam merasa sepi. Ia hanya datang setia menemani, tanpa suara, tanpa syarat, cukup dengan cahayanya yang tak sempurna, tapi tetap menenangkan. Begitu pula hati-hati yang

Puisi

“Belajar Merasa, Baru Bicara Adil”

Jika ingin adil, belajarlah memahami, bukan sekadar menimbang kata di kepala, tapi menyelami luka yang tak terlihat mata. Jika ingin memahami, belajarlah merasakan, bukan hanya mengangguk pada logika, tapi menggigil

Puisi

Di Sudut Hati yang Tak Terjamah

Di sudut hati yang paling sunyi, tempat cahaya kebenaran tak pernah sampai, pertanyaan demi pertanyaan tumbuh dalam diam — “mengapa?” dan “untuk apa?” mengiringi setiap jejak perjalanan yang terasa asing.

Puisi

Rindu yang Tak Bernama

Kudekap dirimu dalam hening, tanpa suara, tanpa temu. Namun bayangmu selalu menetap, mengendap dalam relung yang paling bisu. Angan yang tak pernah kugapai, justru menjulang—menyesakkan dada. Rembulan pun tersipu malu,

Puisi

Barangkali Takdir Belum Berkata “Iya”

Katanya tentang tempat yang disediakan, tentang bersanding tanpa mengikat, tentang duduk dalam lelah namun tetap menghadap. Dan aku percaya, karena kalimatnya berisi sesuatu yang lebih dari sekadar suara.   Kini

Puisi

TERTIDUR DI PERSIMPANGAN JALAN

Hari ini, aku membiarkan benih ilmu tertidur, membiarkan perahu wawasan bersandar, mengistirahatkan pikiran dari petualangan makna. Tapi, ku punya sejuta alasan. Katanya, suasana hati belum tepat. Kemarin pun demikian. Besok?