TERTIDUR DI PERSIMPANGAN JALAN

Hari ini, aku membiarkan benih ilmu tertidur,

membiarkan perahu wawasan bersandar,

mengistirahatkan pikiran dari petualangan makna.

Tapi, ku punya sejuta alasan.

Katanya, suasana hati belum tepat.

Kemarin pun demikian.

Besok? Mungkin juga.

 

Ternyata, tidurku terlalu panjang,

lebih panjang dari labirin pengetahuan.

Bangunku lambat,

lebih lambat dari dentik jam di ruang hampa.

Aku lebih hafal lirik lagu viral

daripada teori dan pengetahuan yang esensial.

Meta game ku kuasai daripada rambu-rambu jiwa.

Dan saat Dosen berkata,

“Ilmu adalah bekal”,

aku menundudk,

karena tasku yang berisi alasan.

 

Katanya, aku Mahasiswa.

Barangkali nama itu terlalu mulia

untuk seseorang yang lebih fasih menyusun jadwal tidurnya.

Ditanganku, buku seolah property,

layaknya aktor figuran dalam filmku yang riuh.

Kopi, lebih sering ku racik daripada menyelami

samudra pasal dan postulat.

 

Kadang, aku bertanya:

Apakah pantas kusebut ini perjuangan?

Malu itu tumbuh seperti bayangan,

mengendap-endap di balik kelopak mata.

Saat aku menatap cermin,

aku melihat seseorang yang tahu seharusnya berlari,

tapi memilih tidur di persimpangan jalan.

 

Kakang Prabu_ (GI)

Sebuah sajak muhasabah, kritikan, dan tamparan. Khususnya bagi pribadi penulis, umumnya untuk semua.

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *