
Senandung Duka di Batas Waktu
Tatkala kesunyian malam tiba, lirih tangisan pilu mengalun dari sosok yang menggenggam erat jemari sang penenun kasih. Dari kejauhan ada yang terpaku terdiam, menyaksikan sosok tercinta terbaring kaku di ranjang

Tatkala kesunyian malam tiba, lirih tangisan pilu mengalun dari sosok yang menggenggam erat jemari sang penenun kasih. Dari kejauhan ada yang terpaku terdiam, menyaksikan sosok tercinta terbaring kaku di ranjang

Aku tahu, kadang hidup terasa berat. Kadang dunia terasa tidak adil. Kita bertanya, “Kenapa aku?” “Kenapa aku yang harus menghadapi semua ini?” Aku pun pernah merasakan itu. Pernah berpikir bahwa

Dalam gelap sudut ruang terdengar suara samar, tak berani bersuara namun lirih terisak. Di hening malam gemuruhnya datang, berdesakan, namun penuh sesak Aku bertanya, apakah layak suara ini didengar, atau

Di tanah ilmu yang penuh cahaya, Berdiri teguh dengan asa mulia. Santri berjuang, tak kenal lelah, Menggapai mimpi dengan penuh berkah. CSSMoRA, adalah wadah yang suci, Untuk menjaga tradisi,

Tak adil kataku, Kau tetap diam Ingkar janji kecamku, Kau masih tak bergeming Pembohong teriakku, kosong Aku mulai ragu kau mengerti bahasa manusia Aku kesal, siluet-Mu saja bahkan tak terlihat