Barangkali Takdir Belum Berkata “Iya”

Katanya tentang tempat yang disediakan,

tentang bersanding tanpa mengikat,

tentang duduk dalam lelah namun tetap menghadap.

Dan aku percaya, karena kalimatnya

berisi sesuatu yang lebih dari sekadar suara.

 

Kini hanya kutipan itu yang tertinggal,

menyala redup di relung yang tak ingin padam:

“Akhirnya berakhir jua

Apa yang selama ini dikejar

Tidak akan pernah pergi dari kodratnya

Senangku hari ini adalah karna masih sebangku denganmu

Terimakasih PujaanKu, yg masih menyediakan tempat duduk untukku dan untuknya,

Tempat bermesra, tempat berduka lara, tempatku berteriak kencang menyatakan ‘ini adalah perjuangan’

Kemudian menyatakan cinta dengan pelan,

Kepada Tuhan.”

 

Dan aku tidak pernah benar-benar merasa kehilangan.

Karena mungkin,

yang dimaksud dengan “sebentuk duduk bersama”

adalah bersisian dalam diam,

mengarah pada yang sama, meski lewat jalan yang berbeda.

 

Jika hari ini tak lagi bersama,

itu bukan karena salah siapa-siapa.

Hanya saja, mungkin takdir belum berkata iya.

Tapi niat tak pernah pulang sia-sia

jika ia bermuara kepada yang Esa.

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *