Menjelang akhir Ramadhan, suasana di Cianjur, tepatnya di Masjid Darul Falah, Kampung Kelapa Condong, terasa semakin hidup. Malam ke-27 menjadi momen yang paling dinanti, bukan hanya karena nilai spiritualnya, tetapi juga karena di situlah rangkaian panjang tadarus Al-Qur’an mencapai puncaknya.
Sejak awal Ramadhan, tadarus telah menjadi bagian dari kebiasaan malam masyarakat. Setelah salat tarawih berjamaah, para jamaah tidak langsung beranjak pulang. Mereka tetap tinggal, duduk bersama, membuka mushaf, lalu melanjutkan bacaan Al-Qur’an secara bergiliran. Tidak ada pembagian yang kaku kadang satu juz, kadang dua juz, semuanya berjalan menyesuaikan dengan jumlah dan kemampuan yang hadir malam itu.
Suasana yang tercipta sederhana, tetapi hangat. Anak-anak yang masih belajar membaca duduk berdampingan dengan remaja dan orang tua yang lebih fasih. Di dalam lingkaran itu, bukan hanya ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca, tetapi juga kebiasaan baik yang perlahan ditanamkan. Malam demi malam berlalu, hingga tanpa terasa bacaan mendekati akhir.
Puncaknya terjadi pada malam ke-27 Ramadhan. Pada malam itu, khataman Al-Qur’an dilaksanakan setelah salat tarawih di ruang utama masjid. Setiap individu mendapat bagian untuk membaca surat, yang umumnya dimulai dari surah At-Takatsur hingga Surah An-Nas. Bacaan demi bacaan mengalir, menjadi penutup perjalanan tadarus selama satu bulan penuh. Setelah ayat terakhir selesai dilantunkan, suasana sejenak hening sebelum doa khatmil Qur’an dipimpin oleh ustaz setempat.
Setelah itu, suasana perlahan berubah menjadi lebih hangat. Warga berkumpul dan menikmati makan bersama dengan hidangan khas seperti nasi kebuli dan kambing guling, yang telah dipersiapkan sejak sore hari secara gotong royong oleh masyarakat.
Di sela-sela kebersamaan tersebut, tradisi “nyawer” menjadi bagian yang paling meriah. Uang, permen, makanan ringan, hingga kacang (suuk) tidak sekadar dibagikan, melainkan ditaburkan atau dilemparkan ke arah para peserta, terutama anak-anak, yang dengan riang berebut sambil tertawa. Momen ini menghadirkan suasana yang akrab dan penuh kegembiraan, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri dalam rangkaian acara.
Sebagaimana disampaikan oleh Samsul Bahri selaku tokoh agama setempat :
“Ini adalah kegiatan turun-temurun masyarakat Kelapa Condong yang tujuannya tidak hanya mengkhatamkan Al-Qur’an saja, tetapi juga sebagai upaya untuk menghidupkan masjid dan menjalin silaturahmi, apalagi banyak masyarakat yang baru mudik.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya berorientasi pada ibadah semata, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Pelaksanaannya yang bertepatan dengan menjelang Idulfitri menjadikan momen ini sebagai ruang berkumpulnya masyarakat, khususnya para perantau yang kembali ke kampung halaman.
Lebih menarik lagi, beliau juga mengungkapkan bahwa pada masa lalu, tradisi ini memiliki fungsi sosial yang lebih luas.
“Dulu, selain untuk ibadah dan kumpul bersama, ini juga sering jadi ajang anak-anak muda saling kenal. Kadang dari situ juga ada yang sampai jodoh.”
Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi khataman Al-Qur’an tidak hanya menjadi sarana ibadah dan silaturahmi, tetapi juga berperan sebagai ruang interaksi sosial yang alami. Dalam suasana yang hangat dan terbuka, hubungan antarindividu terjalin dengan lebih dekat, bahkan hingga membentuk ikatan yang lebih serius dalam kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, tradisi khataman Al-Qur’an di Kampung Kelapa Condong, Cianjur, bukan sekadar penanda berakhirnya bacaan 30 juz di penghujung Ramadhan. Ia adalah ruang hidup tempat nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, dan budaya bertemu dalam satu waktu yang sama. Dari lantunan ayat yang dibaca bersama, hidangan yang disiapkan secara gotong royong, hingga tawa yang pecah saat nyawer berlangsung, semuanya membentuk satu kesatuan pengalaman yang tidak terpisahkan.
Lebih dari itu, tradisi ini menunjukkan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah yang sunyi, tetapi juga pusat kehidupan sosial yang hangat dan terbuka. Di dalamnya, generasi tua mewariskan kebiasaan, generasi muda belajar mengambil peran, dan masyarakat secara keseluruhan merawat ikatan yang mungkin tak selalu terlihat, tetapi terasa kuat.
Di tengah arus perubahan zaman, tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kebersamaan tidak selalu harus diajarkan secara formal, ia bisa tumbuh dari kebiasaan sederhana yang terus dijaga. Dan selama suara Al-Qur’an masih dilantunkan di malam ke-27 itu, selama tawa anak-anak masih terdengar di sela-sela nyawer, tradisi ini akan tetap hidup menjaga cahaya Ramadhan agar tidak pernah benar-benar padam.
