Pagi di bulan Ramadhan datang seperti biasa,
matahari tetap naik tanpa bertanya siapa yang siap.
Namun ada yang berbeda,
sunyi terasa lebih jujur dari hari-hari sebelumnya.
Jam berjalan pelan,
seolah ikut menahan diri dari tergesa-gesa.
Di sela-sela waktu,
haus menulis puisi di tenggorokan,
kering, retak, tapi jujur,
seperti rindu yang lama dipendam.
Menjelang siang,
pikiran mulai berisik dengan hal-hal sederhana:
kolak yang seakan melambai dari kejauhan,
es buah yang terasa terlalu nyata untuk sekadar bayangan,
dan gorengan yang hadir tanpa diundang.
Lucunya,
yang paling ramai justru bukan lapar atau haus,
melainkan hati yang tiba-tiba banyak bicara:
“sudah sejauh apa melangkah,
dan kapan terakhir kali benar-benar pulang?”
Malam datang tanpa suara,
langit seperti ikut bersujud,
bintang berbaris rapi,
bulan menjaga diam dengan penuh makna.
Ada tawa kecil yang terselip,
karena ternyata puasa bukan sekadar menahan,
melainkan belajar melepaskan
ego yang sering merasa paling benar,
amarah yang datang tanpa permisi.
Di akhir nanti,
tak ada janji menjadi sempurna,
hanya harapan sederhana:
menjadi lebih jujur pada diri sendiri,
lebih ringan dalam memaafkan,
dan lebih hangat dalam memahami.
Aneh, tapi nyata
dari lapar lahir rasa cukup,
dari haus tumbuh syukur,
dan dari Ramadhan,
manusia belajar kembali…
cara menjadi manusia.
