Dina dan Catatan dari Sebuah Keputusan

Dina duduk di teras asrama putri dengan sebuah buku terbuka di pangkuannya. Educated karya Tara Westover. Sampulnya sudah agak kusam, punggung bukunya mulai melengkung, seolah sering dibuka berkali-kali dengan cara yang tidak selalu lembut. Halaman-halamannya dipenuhi lipatan kecil dan garis pena tipis. Bukan sekadar penanda bacaan, melainkan jeda-jeda ketika ia perlu berhenti, menutup buku, lalu menatap ke arah yang lebih jauh dari teks. Ia baru saja menyelesaikan satu bagian, tentang bagaimana pendidikan bukan semata ruang kelas, melainkan keberanian untuk memberi nama pada diri sendiri. Namun matanya tertahan pada paragraf yang sama sejak beberapa menit lalu. Kalimat-kalimatnya terasa dekat, terlalu dekat, seperti seseorang yang sedang berbicara dengan suara pelan tepat di sebelahnya.

Di hadapannya, kebun terbentang luas. Berbagai jenis tanaman tumbuh berdampingan, tidak seragam, namun saling melengkapi. Di sisi paling ujung, pohon-pohon tabebuya sedang mekar pada puncaknya. Kelopak bunganya berjatuhan perlahan, mengisi tanah dengan warna lembut, seperti senja yang enggan pergi terlalu cepat.

Menjelang magrib, udara terasa lebih tenang. Dina sangat menyukai jam-jam seperti ini. Ada jeda yang jarang ditemukan di waktu lain, ruang di mana pikiran boleh berjalan tanpa ditanya arah dan tujuan. Ruang dimana ia sekedar duduk, diam, dan mengingat.

Pikirannya melayang ke satu fase yang pernah hampir mengubah seluruh hidupnya.

Dulu, sebelum ia sampai sejauh ini, sebelum buku-buku menumpuk di rak dan nama-nama besar menjadi akrab di kepalanya, ada satu keputusan yang membuat dadanya terasa sempit berhari-hari. Keluarganya tidak pernah benar-benar melarangnya bermimpi. Mereka hanya mengajaknya bersikap realistis. ”Hidup,” kata mereka, ”tidak selalu ramah pada rencana yang terlalu panjang.”

“Kerja saja dulu, Na,” kata salah seorang dari mereka suatu sore.
“Kuliah nanti bisa dipikirkan lagi. Yang penting sekarang kamu mandiri.”

Kalimat itu diucapkan dengan tenang, tanpa nada tinggi, tanpa paksaan. Justru karena itulah kata-kata itu terasa berat. Dina tahu, mengalah saat itu akan membuat segalanya lebih sederhana. Ia tinggal menurunkan kepala, mengubur keinginannya sendiri, lalu melangkah ke hidup yang sudah disiapkan orang lain. Ia ingat betul, malam itu ia duduk lama di kamarnya, menatap langit-langit, menimbang sesuatu yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya.

Ada jarak antara setia pada keluarga dan setia pada diri sendiri. Dan jarak itu sering kali harus ditempuh sendirian. Ia tidak pandai menjelaskan mimpinya. Ia hanya tahu, jika ia berhenti melangkah saat itu, ada bagian dari dirinya yang akan padam perlahan, tanpa pernah diberi kesempatan tumbuh.

Ia hampir memilih diam. Hampir memilih patuh. Hampir menyerah sebelum benar-benar berjuang.

Lamunan itu membuat Dina menarik napas panjang.

Ia menatap kembali kebun di hadapannya. Tabebuya masih gugur dengan caranya sendiri, tenang, tanpa ragu. Seperti yang berulang kali ia temukan dalam halaman-halaman Educated, tumbuh tidak selalu berarti melawan dengan keras. Kadang cukup dengan bertahan, dan memilih berjalan meski gemetar.

Andai saat itu ia mengalah, pikirnya, mungkin sore seperti ini tidak pernah ia kenal. Ia tidak akan duduk di teras ini, tidak akan memeluk buku dengan rasa tenang, tidak akan bertemu orang-orang yang kini menjadi bagian penting dari hidupnya.

Di tempat ini, Dina menemukan sesuatu yang selama ini hanya ia bayangkan samar-samar. Sebuah ruang di mana ia tidak perlu terus menjelaskan dirinya. Di mana kepedulian hadir tanpa harus diminta. Di mana kebersamaan tidak diukur dari seberapa sering berbicara, melainkan dari kesediaan untuk tinggal. Ia menyebutnya CSSMoRA UNUSIA.

Ia melihat banyak orang hebat di sekitarnya. Hebat bukan karena mereka selalu berhasil, tetapi karena mereka memilih bertahan. Mereka jatuh, bangkit, lalu berjalan lagi tanpa banyak suara. Prestasi mereka tidak menjadikan yang lain merasa kecil. Justru sebaliknya, membuat Dina belajar bahwa tumbuh bisa dilakukan bersama-sama.

Namun perjalanan itu tidak selalu ringan. Ada masa ketika Dina merasa lelah pada dirinya sendiri. Ada hari-hari ketika ia mempertanyakan pilihannya, ketika ia merasa berjalan terlalu jauh dengan bekal yang pas-pasan. Ia hampir menyerah di tengah jalan, bukan karena tidak mampu, melainkan karena lelah terus berharap. Anehnya, setiap kali perasaan itu datang, Dina selalu menemukan hal-hal kecil yang menahannya. Sebuah obrolan singkat di sela kesibukan. Sebuah tawa sederhana setelah hari yang panjang. Sebuah contoh tentang tanggung jawab yang dijalankan tanpa perlu dipamerkan. Dari situlah Dina belajar nilai-nilai yang tidak tertulis. Tentang adab, tentang disiplin, tentang iman yang hadir dalam kebiasaan sehari-hari.

Ia belajar bahwa hidup tidak selalu meminta ia berlari. Terkadang cukup melangkah pelan, asal tahu ke mana harus menuju.

Dina menutup bukunya perlahan. Educated kini terletak diam di sampingnya, seolah sudah selesai mengatakan hal-hal yang perlu disampaikan hari itu. Kelopak tabebuya kembali jatuh, kali ini tepat di dekat kakinya. Ia memandangnya sebentar, lalu tersenyum kecil. Menyadari bahwasanya di dunia ini ada hal-hal yang indah justru ketika ia dibiarkan jatuh dengan caranya sendiri.

Suara langkah terdengar dari arah pintu asrama.

“Na, ayo masuk,” kata seseorang dengan nada ringan. “Sudah magrib. Kita siap-siap pergi jamaah.”

Dina menoleh. Seorang temannya berdiri di sana, tidak tergesa, tidak memaksa. Hanya mengingatkan, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia. Dina mengangguk, bangkit dari duduknya, lalu memeluk buku itu sebentar sebelum menyelipkannya ke sisi tubuhnya.

Langit semakin gelap ketika ia melangkah masuk. Senja telah menyelesaikan tugasnya hari itu. Dina sadar, hidupnya pun begitu. Ia tidak lagi berada di persimpangan yang sama seperti dulu. Meski persimpangan-persimpangan baru didepan telah siap menunggu.

Dan di antara langkah-langkah menuju ruang ibadah, Dina tahu satu hal dengan pasti: ”keputusan untuk tidak mengubur mimpinya dulu adalah alasan mengapa ia bisa berdiri di sini hingga saat ini”.

 

 

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *