MENJADI MANUSIA AUTENTIK: JALAN SUNYI KADER CSSMORA BERSAMA PAULO FREIRE

Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan asal Brasil, dikenal luas lewat gagasan pedagogi kaum tertindas (Pedagogy of the Oppressed). Dalam pandangannya, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan pembebasan kesadaran manusia dari kebodohan struktural dan penindasan sosial. Kesadaran, bagi Freire, bukan sesuatu yang statis, melainkan tumbuh secara dialektis dalam konteks sosial. Ada tiga tahapan kesadaran yang ia tawarkan: kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis. Gagasan inilah yang dapat menjadi kerangka reflektif bagi para kader CSSMoRA dalam membentuk dan menumbuhkan karakter.

CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) adalah wadah pengembangan kader intelektual santri yang tidak hanya unggul secara akademik, tapi juga berkarakter kuat dan peduli sosial. Dalam proses kaderisasinya, CSSMoRA menekankan pentingnya pembentukan karakter berbasis nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Namun, tanpa kesadaran yang reflektif dan kritis seperti yang diteorikan Freire, proses pembentukan karakter mudah terjebak dalam rutinitas simbolik tanpa makna.

  1. Kesadaran Magis: Karakter yang Tak Tersadarkan

Pada tahap awal, banyak individu termasuk kader masih berada pada level kesadaran magis. Di sini, mereka menerima segala sesuatu apa adanya, tanpa pertanyaan atau analisis. Karakter pada tahap ini sering kali hanya formalitas: sopan karena aturan, jujur karena takut dosa, rajin karena takut hukuman. Mereka mengafirmasi nilai-nilai luhur tanpa pemahaman mendalam, seakan karakter adalah seperangkat kewajiban moral yang harus dipatuhi, bukan hasil kesadaran diri.

Kader dengan tipe kesadaran ini biasanya menjalani aktivitas CSSMORA secara pasif. Ia sekadar mengikuti program karena kewajiban, menghadiri kegiatan karena absen, dan menjalankan amanah tanpa semangat perubahan. Ia tidak bertanya kenapa CSSMoRA ada, untuk apa beasiswa itu diberikan, atau apa kontribusi dirinya terhadap umat dan bangsa.

Bahasa kasarnya: “yang penting cair tiap semester

Padahal, kader CSSMoRA seharusnya sadar bahwa ia adalah bagian dari proyek besar pencerdasan umat yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

  1. Kesadaran Naif: Karakter yang Emosional tapi Belum Kritis

Tahap ini menunjukkan adanya dorongan untuk berubah, namun masih emosional dan cenderung menyalahkan faktor eksternal. Misalnya, kader yang ingin membela kaum tertindas, namun belum memahami struktur sosial yang melatarbelakangi ketertindasan tersebut. Karakter sosial tumbuh, tapi tidak berdasarkan pemahaman sistemik. Dalam konteks CSSMoRA, bisa muncul semangat aktivisme yang tinggi, namun tidak dibarengi dengan refleksi mendalam tentang strategi, etika, dan keberlanjutan gerakan.

  1. Kesadaran Kritis: Karakter sebagai Buah Refleksi dan Aksi

Inilah puncak dari kesadaran menurut Freire. Karakter tidak lagi bersifat normatif semata, melainkan hasil refleksi kritis terhadap realitas sosial, budaya, dan spiritual. Para kader yang mencapai tahap ini memahami bahwa karakter bukan sekadar personalitas, tapi adalah pernyataan sikap terhadap ketidakadilan, ketimpangan, dan tantangan zaman. Mereka menumbuhkan karakter transformatif yaitu karakter yang mampu membaca realitas dan mengubahnya. Dalam praktiknya, kader CSSMoRA yang kritis tidak hanya taat ibadah, tapi juga aktif membela hak masyarakat marginal, menjadi jembatan antara nilai-nilai pesantren dan dinamika sosial kekinian.

Freire menekankan pentingnya dialog dalam pendidikan kritis. Dialog bukan sekadar diskusi, tapi proses saling belajar dan membangun kesadaran kolektif. Di sinilah kader CSSMoRA perlu menghidupkan tradisi diskusi, mentoring, dan aksi sosial yang kontekstual. Proyek-proyek pengabdian masyarakat, kajian lintas disiplin, hingga keterlibatan dalam advokasi kebijakan berbasis nilai Islam dapat menjadi lahan subur bagi pembentukan karakter kritis.

Kesadaran karakter dalam kacamata Paulo Freire bukanlah produk instan. Ia adalah hasil dialektika antara pemikiran, perasaan, dan tindakan dalam medan sosial yang nyata. Para kader CSSMoRA, sebagai representasi santri-intelektual, memiliki peran strategis untuk menumbuhkan karakter yang tidak hanya santun secara pribadi, tapi juga kritis terhadap ketimpangan sosial dan aktif dalam perubahan. Maka, menjadi kader CSSMORA bukan sekadar menerima beasiswa, tetapi adalah panggilan untuk menjadi insan pembebas yang sadar, peduli, dan transformatif.

 

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *