Sunyi Tanpa Arah

Aku masih kecil waktu kau pergi,

Tak sempat bilang ‘ jangan dulu, ayah’

Dunia belum ku kenal, tapi kehilangan sudah kutahu sejak awal.

 

Anak-anak lain bercerita tentang pelukan,

Tentang bahu yang menjadi tempat pulang,

Aku terdiam, hanya memeluk bayangan

Mengira angin bisa menyampaikan rindu yang hilang.

 

Ayah, meski kau jauh di sana,

aku masih berharap kau melihatku,

menguatkanku dari kejauhan,

agar aku bisa berdiri,

meski tanpa tanganmu untuk menggenggamku.

 

Waktu berlalu, aku tumbuh diam-diam,

Menyimpan tangis dalam senyum yang ku telan

Mereka bilang aku kuat,

Padahal aku hanya pandai menyembunyikan luka yang pekat.

 

Ayah,

Diantara hiruk-pikuknya dunia ini,

Aku masih mencari bayanganmu di keramaian,

Seolah sutu hari kau akan muncul untuk menjawab semua diamku.

 

Tapi kau tak datang,

Dan aku harus belajar bahwa beberapa kehilangan tidak untuk di ganti,

Hanya untuk di terima dengan air mata yang sunyi.

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *