Di sudut kota yang tak kukenal namanya dulu,
kutinggalkan kampung, rinduku tak bertepi,
menyusuri jejak ilmu dengan langkah ragu,
tapi langit-Nya tetap teduh, menuntunku ke sini.
Kota sibuk, asing dan bising,
tak ada suara ibu memanggil,
tak ada senyum tetangga menyapa pagi,
namun di tengah sunyi, kutemukan pelita:
CSSMoRA UNUSIA.
Bukan sekadar komunitas atau nama organisasi,
ia adalah pelukan hangat dari saudara yang tak sedarah,
ia adalah doa yang bergema di setiap kegiatan,
ia adalah dapur kecil tempat kita berbagi cerita dan nasi.
Di sinilah aku belajar
bahwa rumah bukan selalu tembok dan genting,
tetapi tempat hati merasa tenang,
tempat kaki kembali meski jauh menjejak.
Dalam diskusi, tadarus, dan kerja kolektif,
kutemukan makna ikatan yang lebih dalam,
tentang semangat, perjuangan, dan cinta ilmu,
tentang mimpi santri yang tak pernah padam.
Wahai CSSMoRA UNUSIA,
kau adalah rumahku yang tumbuh di rantau,
menjagaku dari dingin dunia luar,
menguatkanku kala ingin pulang tapi belum bisa.
