Mereka bilang aku anak bungsu,
anak kecil yang harusnya cukup tinggal di rumah,
ikut aturan, membantu keluarga,
dan melupakan mimpi yang terlalu tinggi di langit sana.
Tapi mereka tak tahu
langkah kakiku bukan warisan siapa-siapa,
tapi tekad yang tumbuh dari diam,
dan keyakinan yang tak pernah diajarkan.
Hari itu,
aku naik pesawat untuk pertama kalinya.
Sendiri.
Tak ada yang antar.
Tak ada yang bilang,
“Hati-hati, ya.”
Tak ada peluk hangat,
hanya koper kecil dan doa yang kupeluk erat.
Aku kuliah bukan karena segalanya mudah,
tapi karena aku tak ingin hidupku berhenti di batas yang mereka tetapkan.
Aku ikut lomba,
bukan untuk pamer,
aku menang lomba,
karena ingin membuat mereka bangga,
tapi yang kudapat hanya satu kata:
“Oh.”
Tak apa.
Aku belajar menanam harapan,
meski tanahku penuh batu dan dingin.
Aku belajar menyiram cita-cita,
meski hujan tak pernah turun dari langit rumahku.
Aku anak bungsu,
tapi aku yang paling dulu paham
bahwa keluarga tak selalu jadi tempat pulang.
Kadang, kita harus jadi rumah untuk diri sendiri.
Kadang, kita harus bangkit
bukan karena disemangati,
tapi karena tak punya siapa-siapa lagi.
Aku ke sini bukan karena dimanja,
tapi karena aku memilih bertahan.
Dan aku berjanji pada diriku sendiri:
mimpiku akan sampai—
meski tak ada yang menunggu di ujung panggung.
