Kita menimbang wajah dan gelar,
di timbangan yang tak pernah benar.
Entah siapa yang membuatnya,
tapi kita percaya seolah tak ada pilihan.
Kita lupa,
cukup bukan soal jumlah,
melainkan damai di dada
saat malam tiba tanpa sandiwara.
Lalu kita kenakan wajah kedua,
bukan demi tipu daya,
tapi karena dunia
jarang mendengar tangis tanpa suara.
Kita berdusta pada diri sendiri:
mengaku kuat di tengah runtuh,
tersenyum di atas lelah,
demi tatapan yang tak sungguh peduli.
Dan dalam diam kita bertanya:
Salahkah jadi biasa saja?
Haruskah bersinar
agar layak dianggap berharga?
Padahal hidup bukan panggung gemilang,
kita bukan pemeran dalam naskah orang.
Tak wajib bagi kita patuh
pada suara yang tak lahir dari hati.
Kita bukan cermin bagi rupa lain,
kita adalah utuh,
meski retak dan tak sempurna,
meski sunyi dan sering tak dimengerti.
Karena keberanian tertinggi
bukan menjadi yang paling bersinar,
melainkan tetap setia pada nurani
saat dunia memintamu jadi orang lain.
Dan jika suatu hari kau lelah,
berhentilah sebentar di antara riuh,
peluk dirimu yang sedang belajar pulih,
dan bisikkan pelan:
“Aku cukup, meski tak seperti mereka.”
