Ada sunyi yang tak selalu dimengerti. Bukan kesepian yang menggores perasaan, melainkan hening yang mengundang perenungan. Di tengah ruang tanpa suara, aku memilih sendiri bukan karena tak ada yang bisa mendampingi, tapi karena ingin lebih dekat pada diriku sendiri.
Senyum, canda, dan tawa yang kerap kuperlihatkan sebagai pelindung agar orang mengiraku baik-baik saja, ternyata tak mampu sepenuhnya menyembunyikan rasa sepi dan kesendirian yang menetap di hatiku.
Diam bukan tanda lemah, justru keberanian untuk menyapa isi kepala yang sering kali kulewatkan. Dalam hiruk pikuk dunia, aku kerap abai pada bisikan hatiku sendiri. Namun di ruang senyap ini, semuanya terdengar jernih rasa takut, asa yang nyaris padam, luka yang diam-diam menetap, hingga mimpi yang tertinggal.
Tak semua hal perlu dirangkai dalam kata. Sebab kadang, diam adalah bahasa paling setia. Ia tak memaksa dunia untuk mengerti, ia hanya membukakan pintu agar aku bisa lebih memahami diri.
Dalam diam aku belajar, bahwa tak mengapa jika tak selalu tampak kuat. Tak semua luka harus diceritakan, dan tidak setiap air mata perlu disaksikan. Sebab proses menyembuhkan diri sering kali dimulai dari kesediaan untuk merasa sepenuhnya tanpa distraksi.
Dan ketika aku kembali melangkah ke tengah dunia, aku tahu ada bagian dari diriku yang telah pulih. Bukan karena keadaan yang berubah, melainkan karena aku telah lebih damai dengan diriku sendiri. Dalam diam yang dulu kutakuti, kutemui kekuatan yang selama ini kucari.
