AROMA MAKANAN DI SEPERTIGA MALAM TERAKHIR

Jam 3 pagi. Rumah masih gelap, tapi dapur sudah hidup. Karena ada seorang ibu yang
lebih dahulu bangun untuk membangunkan sahur dan memasak makanan dengan penuh cinta.
Rumah terasa hangat, bahkan sebelum matahari terbit. Keharmonisan terukir melalui
kebersamaan yang tiada tara mengalahkan kesejukan angin yang hendak menusuk ke tulang.
Sudah hampir seminggu terakhir ini Sandy mengalami mimpi yang sama, sehingga selalu
membangunkannya di jam 3 pagi. Awalnya biasa saja namun, lambat laun mimpi itu semakin
membuka memori yang telah lalu. Ia pun duduk di kursi kamar sembari membuka laci lemari,
lalu mengambil sebuah album foto yang berisi foto-foto di rumahnya dahulu. Bukan rumahnya
yang ingin dilihat melainkan figur 2 orang terdekat yang selalu memberikan waktu dan
perhatiannya kepada sang anak. Sandy duduk tegap menghadap laptop, mulai menulis cerita
ini yang terjadi pada masa kecilnya
Tring….tring…(alarm)
Sandy terbangun dari alam bawah sadar. Tangannya langsung meraih HP untuk melihat
notifikasi terbaru yang mulai berdering. Terlihat ibu keluar dari kamar dengan langkah pelan
langsung menuju ke dapur.
“Ibu kok gak nyapa aku?” bisiknya kesal sembari membalas chat di grup aplikasi hijau.
“Kreekk”(bunyi pintu triplek dari kamar ibu).
“ Ehh udah bangun aja kamu nak” ucap ibu dengan nada lemah.
“Haaaa??…. ibu baru bangun?” sahutnya.
“Iya nak, sekarang jam berapa”
“E..e..ee jam 3 pas bu”
“Ohhh” lanjut ibu langsung menuju dapur.
Tentu saja ia termenung terheran-heran dan bertanya-tanya dalam hati. Positif thinking
ia jadikan benteng utama untuk tidak berpikir liar.
“ Ahhhh mungkin hanya perasaanku saja”
Hawa dingin menembus selimut menjadi sahabat Sandy dalam melewati masa-masa
tidurnya, teriakan sahur mulai menggema di jalan raya menandakan rute pertama dalam puasa
akan dimulai.
”Kita sahur pake tahu tempe aja ya” lirih ibu.
“Alhamdulillah bu, bersyukur masih bisa sahur” sahut ayah.
“Hadehhhhh, gini amat jadi orang miskin. Lauk sahur aja kayak ga niat” Sandy membatin.
“ Nak, habis ini kita sholat shubuh ya” ajak ayah.
“Engga ah, mau tidur. Ngantuk!”
Ayah terdiam. Hati kecilnya merasakan kesedihan mendengar respon dari sang buah hati.
Gubuk kecil tua yang beratapkan daun beralaskan papan dan hanya memiliki satu
kamar menandakan mereka dari keluarga kurang mampu. Untuk tidur saja, Sandy mesti
menghamparkan tikar tipis terbuat dari daun rakitan orang tuanya. Melalui kepiawaian inilah
mereka menjual hasil anyaman tikar dan atap sebagai sarana memenuhi kebutuhan sehari-hari
walau hanya tak seberapa. Jika memang tidak terjual, sang ayah berusaha mencari pekerjaan
halal bagaimanapun itu caranya. Bahkan ia harus rela meminjam uang demi keluarga kecil.
Waktu tetap berjalan, sekolah di bulan puasa menjadi tantangan yang berat bagi Sandy,
karena harus melawan rasa ngantuk, rasa malas dan rasa lapar. Langkah-langkah kecil hampir
terselesaikan, gerbang sekolahh mulai terlihat dari kejauhan. Pohon dan taman nan asri kian
memanjakan mata, terdengan suara riuh anak-anak di kelas.
“Ayahku polisi, setiap hari ia pergi pakai seragam. Buat nangkap orang jahat!!”
“Wahhhh kerennnn” sahut anak-anak yang lain bersamaan.
“Kalau ayahku sih dokter, dia nyembuhin orang-orang sakit. Aku juga pengen jadi dokter kalau
udah besar nanti”
Satu persatu teman-teman mulai membicarakan profesi orang tuanya. Komplikasi rasa
cemas, deg-degan dan takut kian menghampiri Sandy karena tinggal menunggu gilirannya.
“Kalau ayahmu kerja apa san?” cetus anak tetangga yang udah tau latar belakang keluarga
Sandy, anak ini memang sengaja ingin mempermalukannya dihadapan teman-teman yang lain.
“Eee…. anu….. buat atap sama tikar dari daun terus dijual” jawabnya dengan nada yang bergetar
menandakan dia harus bersiap-siap untuk diejek dan ditertawakan.
“ihhh keren banget” sahut anak dari pak dokter.
“Ehhh aku baru tau atap sama tikar bisa dibuat dari daun”
Semua terkagum-kagum dan senang yang membuat perasaan Sandy berubah 180
derajat. Ia hanya bisa berdiri mematung, mata pun ikut berembun tak lama bulir-bulir benih
sudah jatuh di pipi. Prediksi bahwa teman-teman akan mengejek ternyata menjadi sebuah
pujian, tatapan sinis dari anak tetangga tertuju ke ke seseorang karena ia gagal melakukan
rencana busuknya. Tapi, hanya senyum tipis yang Sandy lontarkan sebagai respon bahwa ia
baik-baik saja.
“ Ternyata orang tuaku tak seburuk itu ya”, kejadian hari ini sukses menyentuh dan membuka
pintu hidayah masuk kedalam hatinya.
Matahari mulai turun dari garis edarnya, anak-anak bertaburan seperti laron yang
bertebrangan menuju ke kediaman masing-masing. Puasa hari ini cukup melelahkan, berbuka
dengan yang manis menjadi slogan turun-temurun untuk menghilangkan rasa penat setelah
seharian berpuasa walaupun hanya dengan satu kurma dan seteguk air.
Langit sudah gelap, menandakan hari yang sudah malam. Tiba-tiba muncul keinginan
untuk buang air kecil, Sandy bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju WC. Terlihat ayah
dan ibu yang sedang merakit beberapa buah atap dan segulung tikar, ingin sekali rasanya
menolong tapi pasti mereka melarang.
Tak terasa waktu sahur pun tiba.
“Nakk.. bangun..”
“Sebentar lagi bu, masih ngantuk” tangannya kembali menarik selimut dan memeluk guling,
hidungnya belum mencium aroma masakan dari dapur.
“Tunggu masakan ibu matang baru aku bangun” lanjutnya yang masih setengah sadar.
“Nak… bangunn..”
Sandy terbangun. Tercium aroma yang begitu menyengat.
“Kok bau ikan asin?”
“Iyaa nak, menu sahur kita sekarang ikan asin”
“Alhamdulillah” — —
Sandy menutup laptop, tak terasa air mata menetes dari sudut mata. Karena kembali merasakan
kerinduan akan2 sosok hebat itu, sudah 10 tahun ditinggalkan namun kasih sayangnya masih
terasa hingga sekarang. Hari ini adalah bulan puasa di hari pertama. Dan sudah tidak ada lagi
suara ibu yang memanggil pelan, tidak ada lagi wangi masakan ibu yang membangunkan dan
tidak ada lalgi kalimat sederhana: “bangun nak… sahur! Nanti telat” padahal waktunya masih
lama.
Bu, kalau ibu bisa kembali sebentar aku tidak minta banyak, hanya minta ibu duduk di
sampingku saat sahur dan menemaniku di waktu berbuka. Sama seperti dulu.
Jika tidak bisa, biarkan aku mencarimu dalam baluran doa-doa yang ku panjatkan di sepertiga
malamku.
Selamat jalan ibu.

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *