setelah keheningan yang tak lagi hangat,
setelah tatap yang menjauh, dan makna yang memudar.
aku sadar: kesamaan kita ternyata hanya serpih bayang, yang luluh ketika diuji terang.
aku sempat mengira,
kau melihatku sebagaimana aku ingin dipahami.
nyatanya, kau hanya ingin sekedar tahu dan merasakaan sesaat.
maka kutarik lagi diriku,
dari ruang yang pernah kita isi bersama
kututup jendela yang dulu kubuka lebar-lebar
untuk angin yang ternyata hanya membawa debu
aku kembali ke suara hatiku,
yang dulu sempat kuragukan demi menyambutmu
aku kembali ke luka-luka kecil,
yang dulu ingin kau dalami, tapi justru kau lukai lagi dengan lelucon mu
dan di sini,
dalam diam yang kupilih sendiri,
aku belajar: bahwa tak semua yang berpura-pura mengerti,
layak kuanggap teman sejiwa, atau rumah untuk pulang lagi.
aku tak perlu lagi dikonfirmasi oleh siapa pun,
tentang betapa berhaknya aku berpikir dan bergerak,
karena kini aku tahu:
kesadaranku bukan milik bersama
melainkan milikku
yang kubangun dari puing
dan kutegakkan dengan cinta pada diriku sendiri.