Kisah Satriani dalam memperluas pengalaman global, belajar disiplin, dan membawa semangat pengabdian untuk CSSMoRA UNUSIA
Tak semua keberanian dimulai dari rasa percaya diri yang penuh. Kadang, keberanian justru lahir dari keraguan kecil yang berhasil dilawan. Hal itulah yang dirasakan Satriani, mahasiswi Program Studi Sejarah Peradaban Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) sekaligus anggota P3M CSSMoRA UNUSIA, ketika memutuskan untuk mengikuti International Youth Connection Batch 4 Chapter Singapura dan Malaysia.
Berawal dari sebuah postingan yang ia temukan di Instagram, Satriani mulai tertarik untuk mencoba peluang baru di tingkat internasional. Ketertarikan itu kemudian berubah menjadi keberanian untuk mendaftar. Baginya, mengikuti kegiatan ini bukan hanya tentang perjalanan ke luar negeri, tetapi juga tentang proses bertumbuh, memperluas cara pandang, dan belajar keluar dari zona nyaman.
“Saya merasa bahwa jika hanya berada di zona nyaman, kita akan sulit berkembang. Karena itu, saya mencoba keluar dari batas tersebut dengan mengikuti kegiatan di tingkat internasional,” ungkap Satriani.
Selama mengikuti kegiatan di Singapura dan Malaysia, Satriani mendapatkan banyak pengalaman berharga. Salah satu momen yang paling membuka wawasannya adalah ketika ia berkesempatan melakukan kunjungan ke beberapa kampus ternama, seperti National University of Singapore dan University of Malaya. Dari kunjungan tersebut, ia melihat secara langsung bagaimana sistem pendidikan yang maju, terstruktur, dan mampu membentuk budaya akademik yang kuat.
Tidak hanya itu, Satriani juga mengikuti kegiatan debat delegasi dan presentasi project terkait SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim. Dari proses tersebut, ia menyadari bahwa generasi muda memiliki peran besar dalam memberikan gagasan dan solusi nyata terhadap isu-isu global.
Namun, perjalanan itu tentu tidak selalu mudah. Salah satu tantangan terbesar yang Satriani hadapi adalah keterbatasan dalam memahami dan menggunakan bahasa Inggris. Tantangan tersebut menjadi refleksi penting baginya bahwa kemampuan bahasa merupakan bekal besar untuk terlibat lebih luas dalam forum nasional maupun internasional.
Meski demikian, Satriani dan timnya tidak menyerah. Proses kerja kelompok yang dilakukan secara online dan terpisah jarak menjadi tantangan tersendiri. Akan tetapi, dengan komunikasi yang intens, kekompakan, dan semangat yang sama untuk memberikan dampak, mereka mampu menyusun project dengan baik.
Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Kelompok Satriani berhasil meraih penghargaan Best Group dalam kegiatan International Youth Connection Batch 4. Bagi Satriani, momen saat nama kelompoknya diumumkan sebagai penerima penghargaan menjadi salah satu pengalaman paling membanggakan dan mengharukan.
“Saya merasa sangat bangga dan terharu. Penghargaan tersebut merupakan pencapaian tertinggi dalam kegiatan itu, sehingga menjadi momen yang sangat berkesan bagi saya dan tim,” ujarnya.
Menurut Satriani, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kekompakan, kerja sama tim yang kuat, serta komitmen bersama untuk memberikan hasil terbaik. Ia juga mendapatkan pelajaran penting tentang disiplin waktu, terutama setelah melihat bagaimana budaya tepat waktu sangat dijunjung tinggi di Singapura dan Malaysia.
Pengalaman internasional ini turut mengubah cara pandang Satriani terhadap pendidikan, organisasi, dan pengabdian. Baginya, proses belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang memperluas cara berpikir dan membentuk keberanian untuk bertindak.
Sebagai anggota P3M CSSMoRA UNUSIA, Satriani berharap pengalaman ini dapat ia terapkan dalam program-program pengembangan kapasitas mahasantri. Ia ingin mendorong hadirnya kegiatan yang berfokus pada peningkatan soft skill, kemampuan bahasa asing, serta membuka akses yang lebih luas bagi mahasantri untuk terlibat dalam forum nasional maupun internasional.
Ke depan, Satriani memiliki harapan untuk terus mengikuti kegiatan internasional, termasuk program student exchange. Sebagai langkah awal, ia berencana meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dengan belajar di Kampung Inggris Pare agar lebih siap menghadapi tantangan global.
Di akhir ceritanya, Satriani menyampaikan pesan sederhana namun penuh makna untuk mahasantri CSSMoRA UNUSIA.
“Jangan takut untuk mencoba. Beranilah keluar dari zona nyaman, karena dari situlah proses bertumbuh dan berdampak dimulai,” pesannya.
Perjalanan Satriani menjadi bukti bahwa keberanian untuk mencoba dapat membuka banyak ruang belajar baru. Dari Tolitoli menuju forum internasional, dari rasa ragu menuju pencapaian, Satriani menunjukkan bahwa proses bertumbuh selalu dimulai dari satu langkah kecil: berani memulai.
