Sabtu, 2 Mei 2026 • Aula Lantai 3 UNUSIA • CSSMoRA Training Center (PSDM CSSMoRA)
Takut salah. Takut ditertawakan. Takut suara bergetar saat berbicara di depan banyak orang. Perasaan-perasaan kecil seperti itu sering kali menjadi tembok besar yang menahan seseorang untuk memulai. Banyak orang sebenarnya memiliki kemampuan, gagasan, dan keberanian yang tersembunyi, tetapi semuanya tertahan oleh satu pikiran: “Nanti saja kalau sudah siap.”
Dari keresahan itulah, CSSMoRA UNUSIA menghadirkan kegiatan CSSMoRA Training Center dengan tema “Stop Waiting to Be Perfect: Belajar Public Speaking & English Tanpa Takut Salah.” Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 2 Mei 2026, pukul 13.00 WIB, bertempat di Aula Lantai 3 UNUSIA, dengan menghadirkan Novia Turokhmah, S.Pd. sebagai pemateri.
Di tengah suasana belajar yang hangat, para peserta tidak hanya diajak memahami public speaking sebagai keterampilan berbicara di depan umum. Lebih dari itu, mereka diajak melihat public speaking sebagai proses mengenal diri, melatih keberanian, dan membangun rasa percaya diri. Sebab, kemampuan berbicara bukan hanya tentang suara yang lantang, tetapi juga tentang keberanian menyampaikan pikiran dengan jujur dan terarah.
Melalui materi yang dibawakan, Novia Turokhmah, S.Pd. mengajak peserta untuk berhenti menunggu sempurna sebelum memulai. Pesan ini menjadi inti dari kegiatan: seseorang tidak harus menjadi hebat terlebih dahulu untuk berani berbicara. Justru, keberanian untuk mencoba menjadi awal dari proses belajar. Dari kesalahan, seseorang dapat memperbaiki. Dari latihan, seseorang dapat berkembang. Dari keberanian kecil, tumbuh kepercayaan diri yang lebih besar.
Kegiatan ini terasa dekat dengan kehidupan mahasantri. Dalam keseharian, mahasantri tidak hanya dituntut untuk belajar dan memahami ilmu, tetapi juga mampu menyampaikan nilai, gagasan, dan pesan kebaikan kepada orang lain. Sebagai santri penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi, kemampuan komunikasi menjadi bekal penting untuk berdakwah, berdiskusi, berorganisasi, dan mengambil peran di tengah masyarakat.
Materi yang disampaikan juga menyentuh dasar-dasar penting dalam public speaking. Peserta dikenalkan pada tiga aspek utama, yaitu structure, delivery, dan confidence. Structure membantu pembicara menyusun pesan agar lebih runtut, mulai dari pembukaan, isi, hingga penutup. Delivery berkaitan dengan cara menyampaikan pesan, seperti intonasi, volume suara, bahasa tubuh, dan kontak mata. Sementara itu, confidence atau kepercayaan diri dibangun melalui latihan yang dilakukan secara konsisten.
Tidak berhenti pada teori, kegiatan ini juga menghadirkan suasana belajar yang aktif melalui mini challenge. Peserta diajak untuk memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris selama 30 detik dan berbicara selama satu menit dengan topik bebas. Tantangan sederhana ini menjadi momen penting bagi peserta untuk melawan rasa takut, mencoba tampil, dan merasakan bahwa berbicara bukan tentang harus sempurna, melainkan tentang berani memulai.
Di balik latihan singkat itu, ada nilai yang lebih dalam. Setiap peserta belajar bahwa kesalahan bukan tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses bertumbuh. Pengucapan yang belum sempurna, kalimat yang masih terbata-bata, atau rasa gugup yang muncul saat berbicara adalah bagian alami dari perjalanan belajar. Yang terpenting bukan menghindari kesalahan, tetapi terus mencoba dan memperbaiki diri.
CSSMoRA Training Center menjadi ruang yang tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga membangun keberanian. Kegiatan ini mengajak mahasantri untuk keluar dari rasa minder, membiasakan diri berbicara, menambah kosakata bahasa Inggris, serta menciptakan lingkungan belajar yang saling mendukung, baik di asrama, kelas, maupun ruang organisasi.
Melalui kegiatan ini, CSSMoRA UNUSIA menegaskan komitmennya dalam menghadirkan program pengembangan diri bagi mahasantri. Bukan hanya untuk meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter, mental percaya diri, dan kesiapan menghadapi tantangan zaman.
Pada akhirnya, “Stop Waiting to Be Perfect” menjadi lebih dari sekadar tema kegiatan. Ia menjadi pesan yang mengingatkan bahwa proses belajar tidak harus dimulai dari kesempurnaan. Kadang, langkah paling penting justru dimulai dari keberanian untuk berkata, mencoba, salah, lalu tumbuh.
Sebab dunia tidak selalu menunggu orang yang sempurna untuk berbicara. Dunia membutuhkan orang-orang yang berani menyampaikan. Dan dari ruang kecil bernama CSSMoRA Training Center, keberanian itu mulai ditumbuhkan.
