Ibu…
Saat aku terjatuh dan luka menganga,
engkau yang pertama meneteskan air mata.
Padahal bukan tubuhmu yang tersakiti,
tapi hatimu yang retak berkeping-keping sunyi, sepi, sendiri.
Ibu…
Aku tahu, kau menyimpan perih di balik senyuman,
kau telan sedih tanpa keluhan,
hanya demi melihatku berdiri kembali
meski tubuhmu sendiri mulai letih menjalani hari.
Ketika dunia berpaling,
engkau yang tetap tinggal
menjadi pelita di malam tergelap,
menjadi pelukan di saat aku nyaris lenyap.
Ibu…
Maaf, bila aku tak pandai berkata,
bila hanya diam yang mampu kuucap tiap kali kau terluka.
Tapi sungguh, setiap detak rinduku
selalu menyebut namamu.
Aku hanya ingin kau tahu,
di setiap lelah dan langkahku yang terseok,
ada bisik doamu yang memeluk,
ada kasihmu yang tak pernah cukup aku balas,
meski dengan seribu hidup sekalipun.
Terima kasih, Ibu…
Untuk air matamu yang jatuh karena cintamu,
untuk seluruh hidup yang kau beri tanpa pamrih.
Jika nanti aku tak mampu membalas segalanya…
Tuhan, tolong peluk ibuku… lebih erat dari pelukanku.
