Sejarah bangsa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran penting para ulama dan santri dalam perjuangan melawan kolonialisme. Sejak masa penjajahan hingga proklamasi kemerdekaan tahun 1945, ulama dan santri hadir sebagai aktor moral sekaligus sosial yang menanamkan semangat jihad, nasionalisme, dan pengabdian kepada bangsa. Perjuangan tersebut bukan hanya berbentuk perlawanan fisik, tetapi juga perjuangan ideologis dan spiritual yang berakar pada ajaran agama Islam (Royani).
Memasuki era globalisasi, tantangan yang dihadapi santri tidak lagi berkutat pada perjuangan fisik, melainkan pada bagaimana mempertahankan peran dan citra mereka di tengah arus modernisasi, digitalisasi, serta perubahan sosial yang begitu cepat (Anto et al.). Oleh karena itu, pembahasan mengenai citra santri menjadi relevan, terutama dalam kaitannya dengan kontribusi santri terhadap perkembangan dan arah pembangunan bangsa di era global.
Santri dan Tantangan Globalisasi
Perubahan citra santri dari masa ke masa mencerminkan dinamika sosial, politik, dan pendidikan di Indonesia pada umumnya . Citra santri zaman dulu pada pra kemerdekaan hingga awal kemerdekaan hanya berfokus kepada perlawanan terhadap kolonialisme dan eksklusivitas reliogius. Sudah menjadi rahasia umum tentang bagaimana mobilitas seorang santri dalam hubungannya dengan kiai yang bersifat pengabdian (khidmah). Pertama, mari kita luruskan dulu esensi dari citra itu sendiri, banyak orang yang salah paham mengira bahwa citra itu soal penampilan, branding, ataupun opini publik semata. Padahal dalam politik kebangsaan, citra adalah indikator fungsi sosial, dan bukan hanya sekedar “kosmetik”. Citra Santri itu mencerminkan apakah mereka dipercaya oleh publik sebagai penjaga moral, apakah suara dari santri itu relevan dalam mengambil keputusan, dan apakah nilai yang dibawa oleh santri dianggap kompatibel dengan masa depan bangsa Indonesia.
Saat membahas citra santri, maka banyak hal-hal yang menyinggung mengenai kontribusi nyata seorang santri. Kontribusi santri untuk bangsa sangat luas, baik peran historis dan kebangsaan, serta peran di era modern. Saat Perjuangan kemerdekaan, santri dan pesantren menjadi garda terdepan dalam perlawanan fisik melawan penjajah dan pembentukan negara. Santri juga turut serta dalam perumusan dasar negara dan melahirkan tokoh-tokoh bangsa di berbagai bidang. Pada era modern ini santri memiliki kontribusi dalam berbagai sektor seperti, pendidikan, politik, ekonomi, dan sosial budaya. Bukti nyatanya dapat dilihat dari banyaknya santri yang menjadi guru, dosen, dan pengelola institusi pendidikan. Tidak hanya itu di sektor politik santri juga terlibat aktif dalam pemerintahan dari tingkat bawah hingga atas. Begitupun, dalam sektor yang lainnya santri memberikan kontribusi nyata untuk bangsa (Sunan and Surabaya).
Dinamika Citra Santri dari Masa ke Masa
Pada saat ini banyak kita temukan kasus dimana seorang pemuka agama, pendakwah, ataupun santri melakukan hal-hal yang dianggap salah atau bahkan bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh Islam lalu mengatas namakan kegiatan itu atas dasar “dakwah” ataupun gurauan. Hal ini tentu meresahkan masyarakat dan membuat citra dari seorang santri ataupun para pemuka agama Islam menjadi buruk di mata masyarakat. Jika kita melihat keadaan penilaian masyarakat terhadap Santri sekarang, tentu kita akan menemukan kejadian dimana saat ini masyarakat menganggap santri dan pemuka agama hanyalah orang yang menggunakan agama sebagai alat untuk mendapatkan uang ataupun keuntungan bagi dirinya sendiri. Penilaian buruk masyarakat ini tentu tidak terjadi begitu saja, melainkan karena memang banyak orang-orang yang mengaku faham akan ilmu agama, pendakwah Islam, dan bahkan mengaku sebagai cucu dari Nabi Muhammad SAW. tetapi justru mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan norma masyarakat dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.
Contohnya, kasus pencabulan atau pelecehan terhadap perempuan dibawah umur yang dilakukan oleh kyai dengan iming-iming bermacam-macam, ataupun kasus dimana seorang pendakwah yang mencium anak-anak dibawah umur dengan cara yang diangggap berlebihan. Walaupun peristiwa ini tidak terlalu banyak, tetapi cukup membuat masyarakat menganggap bahwa para pemuka agama di zaman sekarang hanyalah orang yang menjadikan agama sebagai sarana keuntungan baginya. Letak masalah utamanya disini adalah, banyak “pendakwah bermasalah” yang bukan berasal dari Pesantren, atau bahkan berseberangan secara metodologi keilmuan dengan tradisi santri (ngaji kitab, sanad, ataupun dalam hal adab), tetapi tetap disalah pahami oleh masyarakat sebagai santri ataupun ustadz, dan tentu hal ini tidak adil jika kita menyematkan dampaknya ke “citra santri” (Administrasi et al.).
Dari masalah ini, tentu akan menimbulkan pernyataan bahwa bukan citra santri yang rusak tetapi, terletak pada kemampuan publik dalam membedakan antara santri, aktivis agama, dan content creator religius yang menurun. Masalahnya adalah media sosial itu mencampur antara santri, ustadz instan, agitator ideologis, dan influencer moral menjadi satu kategori yaitu “tokoh agama”, ini adalah kesalahan kategorisasi oleh masyarakat, bukan degradasi santri semata. Setelah kita membahas tentang “citra seorang santri ataupun tokoh agama”, mari kita lanjut ke pertanyaan “apakah citra seorang santri ataupun tokoh agama berpengaruh terhadap kemajuan bangsa?”. Pertama kita akan membahas hubungan langsungnya, yaitu legitimasi moral dalam ruang publik. Sebuah bangsa tidak hanya berkembang oleh teknologi, ekonomi, ataupun infrastrukturnya semata, tetapi juga oleh “siapa yang dipercaya memberi arah nilai bangsa”. Jika kita membuat citra seorang santri itu menjadi inklusif, rasional, adil, dan berjarak dari ekstremisme, maka negara akan mendapat legitimasi moral sosial, kebijakan publik akan lebih mudah diterima oleh masyarakat, dan konflik identitas bisa diredam. Sebaliknya jika citra seorang santri itu ditetapkan sebagai eksklusif, reaktif, anti-dialog, dan mudah dipolitisasi, maka agama akan menjadi sumber friksi, pembangunan terhenti atau tersandera karena konflik kultural, dan bangsa berjalan tanpa kompas etik yang dipercaya. Jadi kesimpulannya adalah ya, citra seorang santri itu berdampak langsung pada stabilitas dan arah pembangunan bangsa.
Dan sebagai penguat penjelasan, yang sering disebut “rusaknya citra santri” sebenarnya adalah krisis representasi, bukan krisis nilai. Santri sejati dalam tradisi pesantren yaitu, santri yang jarang gaduh, tidak sensasional, dan bekerja di akar rumput (rendah hati dan tidak terlalu mencolokkan diri dalam sebuah pekerjaan). Namun ruang publik modern saat ini justru menghargai kebisingan, bukan ketekunan. Akibatnya yang tampak sebagai “santri” di mata publik seringkali bukanlah santri epistemik (ketika ia memakai peci ataupun sarung, maka seringkali masyarakat akan mengidentifikasinya sebagai santri), tapi figur agama instan yang hanya mengidentifikasi dirinya sebagai pendakwah. Di titik ini, bangsa kita salah membaca siapa yang “mewakili Islam”. Bahaya terbesar disini bukan “santri di cap kolot ataupun tidak gaul”. Melainkan bangsa kehilangan aktor moral yang mampu mengoreksi kekuasaan secara cerdas dan shahih. Ketika citra santri melemah, kritik moral akan digantikan dengan teriakan populis (orang yang populer), agama dipakai untuk legitimasi, bukan koreksi, dan kebijakan tak lagi diuji oleh etika, tapi oleh popularitas. Disini pembangunan bangsa mungkin akan berjalan, tapi tanpa “rem moral” atau batas etika dan norma. Dan sejarah menunjukkan bahwa bangsa tanpa “rem moral” itu pembangunannya cepat, tetapi sangat rapuh dan rawan akan terjadinya konflik yang menyebabkan bangsa itu terpecah. Pada intinya adalah, hubungan citra santri dengan perkembangan bangsa terletak pada “apakah bangsa ini masih memiliki otoritas moral berakar, berilmu, dan berani ?, atau hanya gaduh religius tanpa kedalaman agama itu sendiri”. Santri memang bukan “penentu tunggal kemajuan bangsa”, tapi tanpa keberadaan santri yang dipercaya dan relevan, bangsa Indonesia akan maju tanpa arah etis yang stabil.
Moderasi Beragama sebagai Pilar Kekuatan Santri
Salah satu pilar utama yang menjaga relevansi santri dalam kehidupan berbangsa adalah moderasi beragama. Moderasi beragama berperan sebagai penyangga agar santri tidak terjebak dalam ekstremisme, baik radikalisme maupun liberalisme. Prinsip ini menjadi fondasi penting dalam menjaga harmoni sosial dan persatuan bangsa.
Bagi santri, nasionalisme tidak dipahami sekadar sebagai kepatuhan administratif terhadap negara, melainkan sebagai bagian dari iman, sebagaimana tercermin dalam prinsip hubbul wathan minal iman. Pesantren menjadi ruang sosial yang efektif dalam menanamkan nilai toleransi, karena mempertemukan santri dari berbagai latar belakang budaya dan daerah. Dalam konteks ini, pesantren berfungsi sebagai laboratorium kebhinekaan yang nyata (Salam and Purnama).
Integrasi Ilmu Agama dan Teknologi
Menghadapi persaingan global yang semakin kompleks, santri dituntut untuk mengintegrasikan ilmu agama dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan iptek dapat menjadi sarana pendukung bagi santri dalam memperluas dakwah dan kontribusi sosialnya. Namun demikian, penguasaan teknologi tidak boleh mengikis nilai-nilai tradisi pesantren, seperti adab kepada guru dan etika dalam berilmu.
Santri diharapkan mampu bersikap selektif dalam menyerap pengaruh global, tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai keislaman. Keberhasilan santri di era globalisasi dapat diukur dari kemampuannya dalam mengamalkan ilmu agama, memanfaatkan iptek secara bijak, serta melahirkan pemikiran-pemikiran Islam yang relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.
Pembahasan dapat disimpulkan bahwa citra santri memiliki peran strategis dalam menentukan arah perkembangan bangsa di era globalisasi. Citra santri yang positif, moderat, dan berakar pada tradisi keilmuan pesantren mampu memperkuat legitimasi moral bangsa dan menjaga stabilitas sosial.
Oleh karena itu, upaya menjaga dan memperkuat citra santri perlu dilakukan secara kolektif, baik melalui penguatan pendidikan pesantren, peningkatan literasi publik, maupun pemanfaatan teknologi secara etis. Dengan demikian, santri dapat terus berperan sebagai aktor moral dan intelektual yang berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa Indonesia.
Referensi
Administrasi, Kajian, et al. Etika Dakwah Dalam Kasus Pelecehan Seksual Gus Elham : Analisis Perspektif Moral Dan Sosial Lain Melalui Lisan , Tulisan , Dan Perilaku Dalam Upaya Mempengaruhi Individu Atau Kelompok. vol. 2, no. November, 2025.
Anto, Ruli, et al. Pembentukan Karakter Santri Di Era Globalisasi : Analisis Peran Pendidikan Tradisional Di Pondok Pesantren Al-Falah Menggunakan Pendekatan Kualitatif. vol. 5, no. 3, 2025, pp. 2037–44.
Royani, Ahmad. PESANTREN DALAM BINGKAI SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN INDONESIA. vol. 02, no. 01, 2018, pp. 121–28.
Salam, Sukarja, and Sigit Purnama. TELAAH KONSEPTUAL SLOGAN HUBBUL WATHAN MINAL IMAN. 1945, pp. 39–51.
Sunan, Iain, and Ampel Surabaya. POLITIK KAUM SANTRI DALAM SEJARAH INDONESIA. vol. 02, 2012, pp. 265–81.
