“Di Balik Tenangnya Ia”

Dari luar, ia tampak seperti samudra yang damai. Tidak ada riak, tidak ada badai. Senyumnya tenang, suaranya lembut, langkahnya mantap. Ia adalah tempat banyak orang bersandar, bertanya, meminta tolong. Dan ia selalu hadir, bahkan sebelum diminta. Seolah dunia memberinya tugas diam-diam: menjadi bahu untuk segala tangis yang tak menemukan tempat.

Namun tak banyak yang tahu, bahwa ketika malam datang dan semua orang pulang ke rumah masing-masing, ia duduk sendiri, diam di sudut ruang berpikir keras tentang bagaimana caranya bertahan. Ia bingung. Bingung bagaimana caranya minta tolong tanpa merasa lemah. Bukan karena tak ada yang mau membantu, tapi karena ia tak pernah tahu caranya bersandar.

Lucunya, ia sendiri yang membangun tembok tinggi itu. Bukan karena ia sombong, bukan karena ia tak butuh orang lain. Tapi karena ia takut. Takut jika suatu hari ia bergantung, lalu orang itu pergi. Ia takut kecewa. Ia takut dijatuhkan saat sedang mencoba berdiri. Jadi, ia memilih diam. Ia memilih kuat, bahkan saat tubuh dan jiwanya sudah gemetar.

Dan lama-lama ia sadar, memang begitu cara hidupnya harus dijalani. Ia tak bisa terus menunggu orang mengerti. Tak bisa berharap ada yang datang tanpa diminta. Sebab pada akhirnya, satu-satunya yang bisa ia andalkan… ya dirinya sendiri.

Kalau ingin diselamatkan, ya bangun. Kalau ingin dipahami, ya belajar memahami diri dulu. Karena dunia tidak selalu menyediakan tangan untuk menarikmu naik. Kadang, kamu sendiri yang harus belajar memanjat keluar dari gelap itu.

Ia tahu itu berat. Tapi ternyata, tak apa-apa. Karena dari semua yang ia temui, hanya dirinya sendiri yang tak pernah benar-benar pergi.

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *