Ayah Yang Tak Pernah Menangis

Ayah,

aku masih mengingat punggungmu

yang selalu pergi sebelum matahari naik,

dan pulang saat dunia sudah mulai tidur.

Tak ada peluk di pagi hari,

tak ada dongeng sebelum tidur.

Hanya letih, peluh,

dan diam yang tak pernah minta dipahami.

 

Aku kecil dulu sering bertanya,

kenapa ayahku tak pernah seperti ayah teman-temanku?

Tak pernah datang ke sekolah,

tak pernah bertanya tentang hari-hariku,

tak pernah bilang “aku bangga padamu.”

 

Tapi aku bodoh, Yah.

Sangat bodoh.

 

Karena yang kulihat hanya tubuhmu yang keras,

bukan jantungmu yang diam-diam retak

setiap kali kau pinjam uang demi uang sekolahku.

Karena yang kudengar hanya suaramu yang tegas,

bukan tangisanmu di balik kamar

saat beras tinggal segenggam dan aku masih minta jajan.

 

Kau ajarkan aku jadi laki-laki,

tanpa pernah berkata satu kata pun.

Kau ajarkan aku menahan lapar,

saat kau sendiri menahan luka.

 

Ayah,

aku tahu sekarang…

kaulah yang selalu berdiri paling akhir di meja makan,

menunggu sisa untuk kau kunyah,

sambil bilang, “Ayah sudah kenyang, makanlah dulu.”

 

Kau tak pernah menangis, Yah.

Bahkan saat dunia memukulmu paling keras.

Kau hanya diam, duduk di sudut rumah,

menyalakan rokok yang bahkan tak pernah kau habiskan,

seolah kau ingin waktu berhenti sejenak.

 

Kini aku di luar pulau,

berjuang seperti katamu dulu:

“Jadilah laki-laki. Jangan bikin malu ibumu.”

Dan aku ingin teriak dari tempat ini,

bahwa aku rindu lelaki yang tak pernah memelukku,

tapi yang memikul dunia demi anak-anaknya.

 

Ayah,

maafkan aku yang dulu tak pernah mengerti.

Kini aku menangis,

untuk semua air matamu yang kau telan sendiri.

 

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *