OPINI CSSMoRA

Organisasi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Mulai dari intitusi pemerintah hingga komunitas informal, organisasi menjadi wadah bagi manusia untuk mencapai tujuan bersama yang tidak mungkin dicapai secara individual. Di era sekarang, organisasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Organisasi yang terlalu kaku dan hierarkis sering kali kesulitan menghadapi situasi global. Sebaliknya, organisasi yang terlalu cair tanpa struktur yang jelas cenderung kehilangan arah dan efisiensi.

Kurangnya transparansi dan komunikasi terbuka juga menjadi kunci dalam organisasi. Ketika informasi mampu dikontrol dengan baik akan membantu dalam penyelesaian konflik internal dan anggota akan merasa terlibat dalam mencapai tujuan organisasi. Organisasi yang terlalu tertutup cenderung menciptakan ketidakpercayaan dan penurunan integritas. Selain itu, budaya organisasi penting diperhatikan. Dimana organisasi memperlakukan anggotanya sebagai aset berharga dan investasi jangka panjang, bukan sekedar sumber daya yang dapat diganti. Ini menjadi langkah penting menghindari gesekan internal di masa yang akan datang. Pada intinya, organisasi yang berhasil di masa depan adalah yang mampu beradaptasi sambil tetap mempertahankan identitas dan tujuan organisasi. Para pengurus harus menghargai kontribusi individu sambil membangun kekuatan kolektif dan mampu saling beriringan menuju tantangan zaman yang semakin kompleks.

Argumentasi di atas menjadi cerminan dan harapan bersama tentang organisasi yang mungkin kita ideal-kan. Namun, pertanyaannya sekarang apakah CSSMoRA mampu menciptakan organisasi ideal bagi anggotanya?

CSSMoRA merupakan organisasi yang mewadahi para penerima beasiswa santri berprestasi Kementerian Agama RI. CSSMoRA merupakan organisasi yang bisa dikatakan sangat ekslusif. Dimana yang berhak menjadi anggota adalah penerima beasiswa dengan status khusus santri. Secara perekrutan dan pendanaan sangat dimanjakan. Tidak seperti organisasi pada umumnya yang harus memikirkan kelangsungan regenerasi organisasi melalui promosi- promosi kepada mahasiswa dan juga pendanaan yang selalu menjadi faktor polemik organisasi pada umumnya. Namun, CSSMoRA bisa dikatakan sebagai organisasi yang beruntung. Selama PBSB masih dijalankan oleh pemerintah maka CSSMoRA jauh dari istilah krisis kader. Pasalnya, setiap tahun akan terus ada penerima beasiswa yang menjadi bagian dari PBSB sehingga secara otomatis menjadi bagian dari CSSMoRA, asal terima jadi. Keberuntungan selanjutnya adalah dari segi pendanaan. Dengan iming-iming uang kas negara maka aliran dana organisasi harusnya bisa dikontrol, baik dari tingkatan nasional maupun perguruan tinggi. Dengan sistem penarikan uang kas setiap individu penerima beasiswa akan selalu menjadi pilihan efektif untuk memungut dana para anggota. Harapannya tentu saja bahwa hasil pajak dari anggota menjadi sumber daya untuk mendukung program-program yang berkualitas dan berdampak nyata bagi peningkatan kapasitas anggota dan organisasi. Beberapa keuntungan ini seharusnya yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan organisasi ke depan.

Namun, pertanyaanya apakah CSSMoRA sudah melakukan langkah-langkah strategis untuk masa depan CSSMoRA? Mungkin kita bisa tanya kepada mas-mas ketua.

Realita yang terjadi seakan jauh dari ekspektasi yang nyata. CSSMoRA seakan hilang ditelan waktu. Bukannya membangun organisasi agar lebih berintegritas dan menjanjikan, justru menampilkan kemunduran dalam segi pemikiran dan gerakan. Gerakan-gerakan dalam merespon isu-isu terkini masih kurang masif. Berlindung dibalik kata “fokus internalisasi”, lantas apakah unsur eksternal terabaikan? Internal yang mana? Sampai hari ini masih banyak anggota CSSMoRA yang tidak selaras dan tidak aktif di organisasi. Mereka menganggap CSSMoRA tidak layak untuk dihidupkan, diurus dan dikembangkan. Seakan CSSMoRA tidak mampu turun ke medan perang karena kekurangan strategi dan amunisi. Kalah saing dan tidak dapat bertarung dengan organisasi lainnya. Bahkan, tujuan dan arah gerak CSSMoRA masih terus dipertanyakan?

Katanya, CSSMoRA merupakan perpanjangan tangan dari Kementerian Agama. CSSMoRA berperan merespon isu-isu diranah agama khususnya pesantren. Namun, pernyataan itu hanyalah sebuah angan-angan. Nyatanya, belum terlihat gerakan-gerakan yang menunjukkan dukungan berarti diranah tersebut. Isu-isu nasional belakangan ini adalah informasi yang bertebaran di media sosial tentang Menteri Agama Bapak Prof. Nasaruddin Umar yang diduga melakukan pelecahan seksual. Hal ini tentu saja memunculkan banyak spekulasi, baik itu narasi yang sifatnya positif maupun negatif. Seakan menutup mata, CSSMoRA justru tidak andil dalam merespon isu tersebut. Harusnya, CSSMoRA yang katanya menjadi anak KEMENAG melakukan pengkajian terkait isu-isu tersebut. Apakah pernyataan tersebut nyata atau sekedar tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar oleh beberapa oknum? Sehingga perlu adanya sikap dan tindakan yang dilakukan oleh CSSMoRA, baik nasional maupun PT untuk mengontrol informasi yang ada. Dengan, membuat pernyataan sikap atau dukungan moril terhadap KEMENAG merupakan tindakan yang mungkin bisa dilakukan sebagai upaya dalam membendung unsur-unsur negatif pada isu tersebut.

Selain itu, CSSMoRA belum melakukan tindakan yang merepresentasikan perpanjangan tangan pemerintah. Baru saja KEMENAG dan LPDP me-launching pembukaan program BIB (Beasiswa Indonesia Bangkit) yang dimana terdapat juga PBSB. Hal ini tentu saja menjadi kesempatan CSSMoRA untuk ikut andil mensosialisasikan program tersebut. Sebagai salah satu bentuk membantu dan berpartisipasi aktif. Keuntungannya tentu saja untuk eksistensi dan integritas CSSMoRA kedepan karena ini menjadi gerbang kaderisasi bagi regenerasi anggota. Namun, hingga saat ini tidak ada sosialisasi yang jelas dilakukan oleh CSSMoRA. Apakah kader CSSMoRA kurang banyak sehingga harus memprioritaskan program yang lain? Ini jelas menjadi salah satu representasi kemunduran terhadap respon dan inisiatif para pemangku kebijakan.

Katanya, CSSMoRA merupakan perpanjangan tangan dari Kementerian Keuangan. Karena PBSB sudah bergabung dengan LPDP. Namun, nyatanya CSSMoRA pun tidak ada respon terkait isu-isu di ranah ini. Contohnya, isu tentang penerima LPDP yang memilih tidak pulang ke Indonesia. Isu tentang istilah “kabur aja dulu”. Ini merupakan isu-isu yang harusnya bisa dikaji oleh CSSMoRA yang katanya bagian dari tubuh pemerintah. Banyak faktor yang menyebabkan penerima LPDP tidak ingin kembali melakukan pengabdian terhadap negeri. Mulai dari keterbatasan akses kerja, peluang kerja, pemanfaatan kemampuan sesuai ranahnya dan penempatan yang masih belum jelas membuat mereka memilih untuk berkarir di luar negeri. Ditambah lagi dengan masalah-masalah nasional lainnya yang memperkuat sikap mereka untuk tidak kembali ke tanah air. Terlepas dari isu-isu nasional tersebut maka perlu ditanyakan lagi bahwa dimanakah peran CSSMoRA?

Seharusnya CSSMoRA mampu merespon isu-isu yang ada dan memanfaatkannya untuk memberikan edukasi yang baik di media sosial. Bahkan, persoalan pengabdian seperti penjelasan sebelumnya membuat sebagian besar kita memilih enggan untuk melakukan pengabdian baik itu kepada negara, masyarakat maupun pondok asal. Padahal, persyaratan dalam penerima beasiswa sudah jelas tentang kewajiban mengabdi yang dilakukan untuk mendapatkan ijazah. Akankah kita harus memilih “kabur aja dulu”? Tidak dipungkiri, hal ini sudah menjadi opsi bagi beberapa orang. Sebuah ungkapan yang bisa disampaikan dalam tulisan ini:

Sadarlah, yang membuatmu jauh dari rumah adalah “pondokmu”. Karena ia menjadikanmu manusia yang “hebat” sehingga demi memantaskan diri menyandang gelar hebat membuat kalian harus menuntut ilmu jauh dari orang tuamu. Maka mintalah pertanggungjawaban kepada pondokmu. Tuntutlah ia dengan sowan sebagai wujud pengabdianmu. Mintalah balasan keberkahan dari para penuntunmu “Kiyai/Guru”.

Makna sesungguhnya dibalik persyaratan pengabdian bagi penerima beasiswa adalah dengan tidak menjadikan pengabdian sebagai sekedar alat transaksional semata demi mendapatkan ijazah. Namun, kita harus sadar bahwa kewajiban mengabdi merupakan salah satu bentuk pengingat diri untuk tidak lupa jati diri. Ini merupakan bagian dari penanaman karakter akan adab dan etika terhadap manusia. Karena sejatinya, yang berilmu harus seperti apa? Olehnya itu, CSSMoRA harus menciptakan gerakan-gerakan kecil dalam merespon isu- isu nasional. Maraknya istilah “kabur dulu aja” bisa saja dimanfaatkan untuk membuat versi yang lebih mengedukasi. Dengan mereduksi kata “kabur” sebagai bentuk kembali ke rumah yang hakiki. Maka, kita bisa saja menawarkan istilah “Kembali Ke Pondok Aja Dulu” sebagai bagian dari inovasi positif dalam mengendalikan perspektif para kaum terpelajar.

Pada intinya arah, tujuan dan cita-cita organisasi merupakan hal yang perlu ditanamkan ke masing-masing individu. Jangan menjadikan organisasi sebagai ajang eksistensi tanpa berniat membangun organisasi menjadi lebih baik. Organisasi bukan hanya sekedar batu loncatan untuk kesuksesan individu. Namun, secara kolektif setiap anggota berhak untuk merasakan kemanfaatan organisasi. Bagaimanapun organisasi tergantung dari siapa yang menjadi pemimpin. Visi dan misi yang jelas menjadikan implementasi pemimpin yang berintegritas. Pemimpin harus sanggup menjadi “Role Model” sehingga akan memunculkan daya tarik atau nilai (value) individu maupun organisasi. Hal ini menjadi tantangan bagi para pemangku kebijakan. Belum lagi dengan keanekaragaman corak atau kultur setiap PT yang perlu diolah untuk tetap memihak kepada kemaslahatan bersama.

Opini ini lahir karena adanya rasa kepedulian dan kepemilikan mendalam terhadap organisasi. Sebagaimana selaras dengan seruan وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ. Dengan kondisi CSSMoRA yang mengalami kemunduran bukan tidak mungkin rasa kekecewaan dan ketidakpuasan akan terus muncul dalam diri setiap anggota.

Salam Loyalitas Tanpa Batas

Teruslah Tumbuh dan Tetap Mengakar CSSMoRA-Ku

 

Share the Post:

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *