Lentera di Balik Pingitan

‎Wangi kayu jati dan aroma melati selalu memenuhi lorong-lorong belakang kadipaten setiap sore. Sari melangkah pelan, membawa nampan berisi wedang jahe. Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu kayu jati berukiran khas Jepara yang tertutup rapat, kamar pingitan Kartini.

‎Dari balik pintu itu, tidak terdengar suara denting perhiasan atau tawa pelan seperti gadis bangsawan pada umumnya. Yang terdengar hanyalah goresan pena di atas kertas. Srek… srek… srek… Sebuah bunyi yang bagi Sari lebih merdu daripada gamelan.

‎”Sari? Itu kamu?” suara lembut dari dalam memecah lamunan.

‎”Injih, Ndoro,” jawab Sari gugup.

‎Pintu terbuka sedikit. Ndoro Ayu Kartini muncul dengan satu buku tebal di tangan. Matanya tampak lelah namun tajam.

‎”Kemarilah. Jangan cuma membawa wedang. Bawa juga keinginanmu untuk tahu apa yang kubaca ini,” bisik Ndoro Ayu sambil menyodorkan sebuah buku tebal berbahasa Belanda.

‎”Jangankan berbahasa Belanda, untuk membaca saja buta huruf,” hati kecilnya bicara. Ia sadar dia siapa. Seorang abdi dibandingkan dengan Ndoro Ayu yang anak bangsawan. Zaman itu, benturan aturan adat bahwa perempuan (apalagi dari kalangan rakyat biasa) tidak perlu berpendidikan. Namun dalam hati kecilnya, Sari sangat mengagumi Ndoro Ayu karena dia bisa membaca, menulis dan melihat bagaimana dunia di luar sana lewat bacaannya.

‎”Sari?” suara Ndoro Ayu memecah lamunan Sari sekilas.

‎”Injih, Ndoro…”

‎Sari mendekat dengan langkah yang diredam lantai kayu, seolah suaranya pun takut mengganggu wibawa buku di tangan Ndoro Ayu. Baginya, deretan huruf itu bukan sekadar bacaan, melainkan tulisan yang berbaris rapi dan menjaga rahasia dunia yang tak mungkin ia masuki.

‎”Huruf-huruf ini memang bicara bahasa Belanda, tapi asalnya dari hati yang merdeka. Kemarilah, biar kuterjemahkan dunia untukmu, sebelum mereka benar-benar mengurung kita di balik pingitan.”

‎Suara Ndoro Ayu memecah keheningan seolah mendengar suara hatinya. Malam itu, untuk pertama kalinya Sari mendengarkan Ndoro Ayu menceritakan kisah Hilda dalam novel karya Cécile de Jong van Beek en Donk yang berjudul Hilda van Suylenburg. Tentang perempuan yang menuntut haknya untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri.

‎Ada binar yang ia sembunyikan di balik tundukan kepala. Bagi Sari, Ndoro Ayu adalah jendela yang terbuka di tengah tembok tebal aturan adat. Setiap kali jemari lentik itu membalik halaman, Sari merasa seolah ada sayap yang sedang dikembangkan, membawa mereka terbang melintasi pagar kadipaten yang tinggi menjulang.

‎Ingatan Sari melayang pada kejadian kemarin sore, saat keberaniannya pertama kali diuji di depan meja jati itu.

‎Sari tahu bahwa rasa ingin tahu adalah barang mewah yang berbahaya bagi seorang abdi dalem. Namun, setiap kali ia meletakkan baki berisi wedang jahe di meja jati itu, matanya tak bisa berhenti melirik lembaran-lembaran kertas yang berserakan.

‎Sore itu, kamar pingitan Ndoro Ayu Kartini tampak sepi. Pemiliknya sedang termenung di dekat jendela jeruji, memunggungi meja. Sari memberanikan diri. Sambil berpura-pura merapikan letak cangkir, ia menunduk dalam, mencoba mengeja coretan tinta yang masih basah. Matanya memicing, mengikuti bentuk huruf yang asing dan meliuk cantik nan anggun.

‎”P-E-R-E-M-P-U-A-N…” batinnya berbisik payah.

‎”Huruf itu tidak akan masuk ke kepalamu hanya dengan dipelototi, Sari.”

‎Sari tersentak hebat. Jantungnya serasa melompat ke kerongkongan. Ia segera menjatuhkan diri ke lantai, bersimpuh sedalam mungkin hingga keningnya nyaris menyentuh ubin dingin. Tubuhnya gemetar.

‎”N-ndoro… nyuwun sewu… kulo… kulo mboten sengaja,” gagap Sari. Ia takut setengah mati akan dianggap lancang karena mencoba “mencuri” ilmu yang bukan hak kastanya.

‎Langkah kaki mendekat. Sari semakin menunduk, menunggu teguran keras atau pengusiran. Namun, yang ia rasakan justru sepasang tangan lembut menyentuh bahunya, memintanya untuk tegak.

‎”Jangan menyembah seolah aku ini berhala, Sari,” suara Ndoro Ayu terdengar tenang, namun ada nada protes di sana. “Angkat kepalamu. Aku lebih suka melihat binar di matamu saat melihat kertas itu daripada melihat punggungmu yang membungkuk karena takut.”

‎Sari perlahan mengangkat wajah, menatap mata Ndoro Ayu yang teduh namun penuh api.

‎”Kamu ingin tahu apa yang kutulis?” tanya Kartini sambil menarik sebuah kursi. “Ini adalah tentang penjara. Tentang pingitan ini, dan tentang bagaimana pendidikan bisa membuat kita, perempuan, benar-benar merdeka.”

‎Sari tertegun. Di ruangan yang harum melati itu, untuk pertama kalinya, ia merasa bukan lagi sekadar tangan yang membawa nampan, melainkan seorang manusia yang punya hak untuk mengerti dunia.

‎”Ndoro Ayu, sejujurnya sudah lama kula ingin belajar membaca dan menulis. Setiap kali melihat Ndoro Ayu Kartini, Ndoro Ayu Rukmini dan Ndoro Ayu Kardinah mengajari anak-anak perempuan di pendopo belakang, kula merasa iri karena tidak memiliki kesempatan yang sama. Simbok pasti selalu menyibukkan kula dengan pekerjaan dapur.”

‎Kartini, Rukmini dan Kardinah adiknya, memang punya sekolah kecil di belakang pendopo. Setiap sore mengajarkan anak-anak perempuan kalangan priyayi di Jepara, bukan hanya tentang membaca dan menulis, tapi juga pembentukan budi pekerti, serta keterampilan seperti merajut, menjahit, dan membatik. Hanya saja, Simboknya selalu mempunyai berjuta alasan agar Sari tetap membantunya di dapur meski sering kali sebenarnya tak ada hal yang harus dikerjakan. Mau bagaimanapun, Sari hanyalah Sari, abdi dalem kaum rendahan. Hanya bisa mengintip diam-diam dari kejauhan ketika Kartini mengajarkan huruf-huruf pada anak-anak di pendopo belakang.

‎”Kau ingin bisa membaca, Sari?”

‎Sari mendongak ragu. “Apakah boleh, Ndoro? Bukankah kula hanya seorang abdi? Bukankah hanya ningrat yang boleh menyentuh pengetahuan?”

‎Kartini mendekat, lalu duduk di lantai menyejajarkan dirinya dengan sang abdi dalem. “Dunia sedang bergejolak, Sari. Dan ketahuilah, darah biru yang mengalir di tubuhku tidak akan bisa membaca huruf-huruf ini jika pikiranku dibiarkan gelap. Di hadapan ilmu, kita berdua sama-sama musafir yang sedang haus. Dan kamu harus ingat, di hadapan ilmu, tidak ada abdi atau bendoro,” jawab Kartini mantap. “Mulai besok, selesaikan tugasmu lebih cepat. Kita akan belajar di sini.”

‎Sari baru saja hendak mengangguk takzim saat Kartini mencondongkan tubuh, menatapnya lekat-lekat.

‎”Tapi ada satu syarat lagi, Sari. Berhenti memanggilku Ndoro. Panggil aku Kartini. Aku ingin kita setara.”

‎Sari tersentak, jemarinya gemetar di atas lantai kayu. “Mboten berani, Ndoro Ayu. Itu namanya melangkahi adat. Kalau abdi lain atau bahkan Kanjeng Romo dengar, kula dan Simbok bisa celaka.”

‎”Adat itu penjara, Sari,” sahut Kartini getir. “Di ruangan ini, kita hanya dua orang yang ingin belajar. Tidak ada kasta di antara kita.”

‎Sari menunduk dalam, suaranya nyaris berbisik namun tegas. “Ampun, Ndoro… Biarlah lidah kula tetap memanggil Ndoro Ayu sebagai perisai agar dunia tidak curiga. Tapi di dalam hati, kula menganggap Ndoro sebagai cahaya.”

‎Kartini menghela napas, ia menyentuh bahu Sari dengan lembut. “Baiklah. Pakailah sebutan itu sebagai perisaimu di luar. Tapi berjanjilah, di dalam kepalamu, jangan pernah merasa lebih rendah dariku hanya karena urusan darah.”

‎Sari mendongak, matanya berbinar. “Injih, Ndoro Ayu. Janji.”

‎Di dunia di mana perempuan hanya diajari membatik dan memasak, minat Sari adalah percikan api yang langka. Dan Kartini sangat bersemangat akan hal itu.

Hari-hari Sari berlalu. Keakraban itu semakin dalam dan mengalir. Kartini menepati ucapannya mengajari Sari. Setiap kali Sari ke kamar Kartini untuk membereskan ruangan, Kartini sembari mengajarinya untuk menghafal abjad.

‎”Ndoro, kenapa ada huruf x? Apakah huruf itu berguna? Kenapa tidak e-k-s? Kan sama saja toh?” tanya Sari suatu hari.

‎”Biar hemat,” jawab Kartini singkat sambil tersenyum simpul.

‎”Ndoro Ayu, beberapa hari yang lalu… kula mendengar orang mengaji. Entah kenapa hati kula merasa tenang ketika mendengarnya, suaranya mengalun seperti nembang berbahasa Arab,” celetuk Sari sambil melipat beberapa pakaian Ndoro Ayu.

‎”Seperti nembang berbahasa Arab? Ada-ada saja kamu ini. Di mana kamu mendengarnya?” Kartini penasaran.

‎”Rumah Pak Kyai,” jawabnya malu-malu.

‎”Itulah mukjizat Al-Qur’an, Sari. Orang yang mendengarkannya dan tidak menahu maknanya sama bisa dibuat tenang. Apalagi yang mengerti arti dan kandungannya.” Kartini menarik napas sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.

“Kiai Sholeh Darat mengajariku bahwa Islam memuliakan akal. Beliau menerjemahkan Al-Qur’an agar kita paham, bukan sekadar membeo. Dan ingat juga, Sari, jangan pernah takut untuk membaca, karena jika Gusti Allah saja menyuruh kita iqra, membaca, maka siapa manusia yang berani melarangmu untuk pintar hanya karena kau seorang abdi?” tuturnya.

Sari mengangguk-angguk paham.

“Kamu mau mendengar cerita, Sari?”

“Cerita apa, Ndoro?”

“Beberapa waktu yang lalu di pendopo Demak, ada pengajian Kiai Sholeh Darat. Beliau mengajarkan tentang makna surat Al-Fatihah, induk Al-Qur’an. Ada suatu kesempatan dimana setelah selesai pengajian, aku menemuinya dan juga sedikit memaksa meminta beliau menulis terjemahan Al-Qur’an, agar bisa dijadikan pedoman bagi putri-putri Jawa. Karena jika kita paham maknanya, tidak akan ada lagi yang bisa membohongi kita dengan dalih agama. Tapi tentunya dengan tulisan Arab Pegon agar aman dari ‘penguasa itu’.”

‎Kartini bercerita, tanpa tahu jika kelak di hari pernikahannya, Kiai Sholeh Darat akan menghadiahkan jilid pertama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir Al-Qur’an pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab Pegon.

‎Sari mendengarnya tertegun, ia baru tahu bahwa kitab suci pun punya rahasia yang sengaja disembunyikan oleh para penguasa kulit putih itu.

‎”Ndoro Ayu sedang menulis surat untuk nona Belanda?” tanya Sari ketika meletakkan wedang di meja Kartini, sedangkan yang ditanya sedang sibuk menggoreskan tinta-tinta di atas kertas.

‎Yang ditanya menjawab tanpa menoleh. “Iya, Sari. Dunia di sini sangat tidak masuk akal. Bagaimana aku tahan ketika adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku? Stella mengajariku, Sari, bahwa di belahan dunia lain, perempuan tidak harus merangkak dan menyembah sesama manusia hanya karena kasta. Itulah kesetaraan. Lalu bagaimana aku tahan memanggil ibuku yang melahirkanku dengan sebutan ‘Yu’ karena kastanya dianggap rendah? Bagaimana aku tahan dengan keadaan bumiputra yang anti sekali dengan kesetaraan.”

Sari mangut-mangut mendengarkan.

‎”Sari, perempuan adalah tiang rumah. Jika tiangnya rapuh karena bodoh, bagaimana mungkin bangunan bangsanya bisa tegak? Aku tidak ingin kita hanya jadi hiasan di dalam sangkar emas. Adat kita selalu memberlakukan perempuan harus selalu lekat dengan urusan dapur, kasur, dan sumur.”

‎Ucap Kartini berapi-api. Kartini menceritakan tentang surat-menyuratnya dengan Stella, sahabat Belandanya. Di hadapan abdi dalemnya, ia tanpa ragu mengungkapkan isi surat yang dikirimkan pada Stella, tentang kritikannya terhadap adat yang tidak masuk akal, keterbatasan pendidikan kaum perempuan yang memandang kasta sosial, dan keinginannya menjadi perempuan modern yang bebas.

‎Sari melihat bagaimana jemari Ndoro Ayu mencengkeram pena hingga buku jarinya memutih, seolah pena itu adalah keris yang siap menghujam ketidakadilan. Melalui Kartini, Sari bisa mengetahui bahwa di belahan dunia lain, perempuan sudah mulai maju.

‎Semenjak mendengarkan Ndoro Ayu bercerita tentang Hilda, sosok perempuan yang dengan keberaniannya menentang aturan sosial yang mengekang perempuan Eropa itu, entah kenapa Ndoro Ayu di mata Sari bukan lagi sekadar majikan, melainkan sebuah menara yang sedang membangun tangganya sendiri menuju langit.

‎”Jujur saja, Ndoro Ayu, setiap kali melihat kertas-kertas yang berisi tulisan Ndoro Ayu, entah kenapa rasanya seperti memiliki nyawa,” ucap Sari.

‎”Kertas ini memang mempunyai nyawa, Sari. Dia punya suara yang lebih keras dari teriakan, dan punya kaki yang bisa berjalan lebih jauh dari langkah kaki kita yang terikat jarik ini.”

‎”Tapi, apakah Kanjeng Bupati tidak marah Ndoro Ayu berkirim surat dengan nona Belanda itu?” tanya Sari penasaran.

‎Kartini menarik napas pelan, lalu menjawab, “Rama orangnya tidak sekaku itu, Sari. Beliau mendukungku.”

‎Sari akhirnya paham, mengapa meski dipingit Ndoro Ayu tetap boleh berkirim surat dengan Nona Zeehandelaar.

‎Kedekatan Kartini dan Sari semakin lama memicu kecurigaan abdi dalem yang lain, hingga suatu sore Mbok Sum, Simboknya, memergoki Sari ketika sedang mencoba mengeja buku di kamar Kartini.

‎”Sari! Apa yang kau lakukan?! Nyalahi kodrat kamu, nduk!!” jerit Mbok Sum ketakutan.

‎Ia menarik kasar tangan Sari, menyeretnya hingga bersimpuh di lantai. “Ampun, Ndoro Ayu! Jangan racuni pikiran anak kawula. Sari itu abdi! Jika dia pintar, dia akan benci pada nasibnya sendiri. Belajar itu racun buat wong cilik seperti kita! Biarkan dia tetap buta agar dia bisa menjalani hidupnya dengan tenang.”

‎”Tapi sekolah itu untuk kalian, Mbok! Ilmu adalah hak setiap manusia,” bela Kartini.

‎”Tapi dunia belum siap menerima abdi yang pintar, Ndoro! Lancang kamu, Sari! Bagaimana jika Kanjeng Romo tahu?”

‎Mbok Sum hendak melayangkan tangan ke muka Sari, namun suara tenang Kartini menghentikannya.

‎”Cukup, Mbok Sum. Sari tidak mencuri apa pun. Ia sedang menjemput haknya,” ujar Kartini tegas. “Kalau Simbok takut akan kemarahan Rama, biar saya yang bicara. Tapi jangan hukum keinginan jujur anakmu untuk menjadi pintar.”

‎Mbok Sum gemetar. Antara takut dan tak mengerti, ia akhirnya menyeret Sari keluar dari kamar itu. Sejak sore itu, tembok pingitan terasa ribuan kali lebih tebal bagi Sari. Ia dilarang keras oleh Simboknya mendekati kamar Ndoro Ayu Kartini.

‎Berbulan-bulan kemudian, suasana kadipaten berubah. Ada desas-desus tentang pinangan dari Rembang. Suatu malam, dengan bantuan Rukmini yang berjaga di depan, Sari berhasil menyelinap masuk ke kamar Kartini untuk terakhir kalinya.

‎Kartini tampak lebih kurus. Di meja jati itu, ia tidak sedang menulis surat untuk Stella, melainkan menatap selembar kertas dengan tatapan kosong.

‎”Sari, mendekatlah,” bisik Kartini. Suaranya rendah, nyaris hilang ditelan sunyi malam Jepara yang dingin.

‎”Mereka bilang, aku akan menikah. Dan aku akan menjadi istri kesekian,” suara Kartini getir.

‎Sari tersentak, air matanya jatuh tanpa permisi. “Tapi Ndoro… Ndoro yang mengajariku bahwa perempuan harus merdeka. Mengapa Ndoro bersedia dimadu? Mengapa Ndoro mau menjadi yang kesekian?”

‎Kartini menatap mata Sari dengan sisa-sisa api yang masih ada, meski kini mulai meredup oleh kesedihan.

‎”Dahulu aku berteriak paling keras menentang poligami. Aku benci melihat perempuan dibagi-bagi hatinya seperti membagi petak sawah. Aku bukan wanita yang mau menyakiti hati wanita lain. Tapi, Sari… ada satu beban yang tidak bisa diajarkan oleh buku mana pun.” Suara Kartini tertahan,

“Beban apa yang Ndoro Ayu, maksud?” Sari menahan isak.

“Beban itu bernama bakti. Lihatlah Rama… beliau sudah memberiku ruang untuk belajar, memberiku izin untuk menulis surat-surat itu meski dunia mencibirnya. Aku tidak sanggup melihat wajahnya tertunduk malu di hadapan para bangsawan lain hanya karena aku menolak takdir ini. Aku tidak tega melihat Rama hancur demi ego pribadiku.”

‎Sari menangis sesenggukan di pangkuan Kartini. “Tapi Ndoro… ini tidak adil bagi Ndoro Ayu.”

‎”Keadilan terkadang butuh tumbal, Sari,” bisik Kartini lembut. “Aku menerima pinangan ini sebagai bentuk baktiku kepada Rama. Namun, aku tidak menyerah begitu saja.”

‎Kartini mempererat genggamannya. “Aku setuju mengunci pintu kebebasanku sendiri, agar pintu-pintu sekolah bagi perempuan seperti kamu bisa terbuka lebar. Jangan benci aku karena keputusan ini. Aku setuju menikah karena calon suamiku nanti berjanji mendukung sekolah yang kubangun. Aku menukar diriku demi masa depan perempuan-perempuan seperti kamu, demi perempuan bumiputra di luar sana. Perjalananku di Jepara mungkin berakhir di sini, namun mimpiku tidak boleh ikut terkubur.”

‎Sari baru sadar bahwa lentera yang ia kagumi itu sedang membakar dirinya sendiri. Ndoro Ayu-nya sedang mengorbankan nyawa batinnya demi memberi cahaya pada lorong yang gelap, sekaligus menjaga kehormatan orang tua yang dicintainya.

‎Kartini berhenti sejenak, memperbaiki letak jariknya yang kusut, lalu memberikan Sari secarik kertas terlipat yang ia sembunyikan sejak tadi.

‎”Sudah Sari, hapus air matamu. Simpan ini, mungkin ini adalah malam perpisahan kita. Sekarang, keluarlah..”

Rembang, 21 April 2026

‎Aku menuntun Oma menuruni anak tangga pintu keluar dari museum. Cuaca Rembang sore hari tidak begitu terik. Setelah pagi tadi ke makam RA Kartini di Bulu, pulangnya Oma mengajakku melipir sejenak ke tempat kami berdiri sekarang, Museum Kamar Pengabdian. Kini, kami akhirnya memutuskan untuk kembali pulang ke kota kami, Jepara.

‎”Jadi isi suratnya itu apa, Oma?” tanyaku penasaran.

‎”Oma akan memberi tahu, tapi kita beli batik Lasem dulu… hahaha. Mumpung masih di Rembang.” Oma tertawa sambil masuk ke dalam mobil yang sedari tadi menunggu kami di parkiran Museum Kartini.

‎”Oma, sejak kapan Oma rutin berziarah ke makam Ibu Kartini?” tanyaku memecah sepi di dalam mobil.

‎”Kamu tanya saja sama Bimo,” jawab Oma.

‎Bimo itu sopir keluarga kami sedari ibuku masih kecil.

‎”Sedari awal saya kerja di sini, Bu Laras pasti setahun sekali berziarah ke sini, Mbak Sekar,” jawabnya sambil melirik spion tengah.

‎”Jadi sejak kapan, Oma???” Aku makin penasaran.

‎”Sejak kecil, nduk… Sejak buyutmu masih ada.” Oma terdiam sejenak.

‎”Buyutmu itu dulu pendiam sekali, Sekar,” Oma Laras berujar lirih sembari menatap deretan pohon jati di sepanjang jalan Rembang. Tangannya yang mulai keriput meraba sebuah kotak kecil dari kayu cendana di pangkuannya.

‎”Dia selalu bilang, dia punya hutang nyawa batin pada seorang perempuan hebat. Katanya, kalau bukan karena tangan lembut seorang bangsawan yang sudi duduk sejajar di lantai ubin bersamanya, mungkin dia selamanya hanya akan jadi perempuan yang hanya tahu cara mengaduk wedang jahe dan patuh pada nasib.”

‎Aku tertegun. “Tapi Oma, bukankah buyut itu dulu hanya… maksudku, katanya beliau bekerja di pendopo?”

‎Oma tersenyum misterius. Ia membuka kotak kayu itu. Di dalamnya, terselip secarik kertas yang dilipat sangat kecil, berkali-kali lipat hingga ukurannya tak lebih besar dari ibu jari. Kertas itu tampak lecek, dengan bekas lipatan yang sangat dalam, seolah pernah ditekan kuat-kuat dalam waktu yang sangat lama.

‎”Buyutmu menyimpan ini di balik kembennya sampai hari terakhirnya. Bertahun-tahun kertas ini menempel di kulitnya, ikut merasakan keringat dan sesaknya napas saat dia bekerja di dapur atau merangkak di pendopo. Dia ingin memastikan bahwa ‘nyawa’ di dalam kertas ini tetap hangat di dalam darah anak cucunya.”

‎Mobil berhenti di depan sebuah galeri batik Lasem. Oma memberikan kertas rapuh itu padaku.

‎”Baca ini. Ini surat yang tidak pernah ada di buku sejarah mana pun. Surat untuk seseorang yang dunia panggil ‘abdi’, tapi Kartini panggil dengan namanya sendiri.”

‎Dengan tangan gemetar, aku membuka lipatan-lipatan kecil itu dengan sangat hati-hati. Coretan tinta di dalamnya sudah samar, namun bentuk hurufnya meliuk anggun. Isinya singkat, ditulis dengan terburu-buru di bawah cahaya lentera yang redup:

‎”Sari…
‎Lentera ini tidak akan mati meski aku pergi ke Rembang. Ia sudah berpindah ke tanganmu. Bacalah dunia, tuliskan nasibmu sendiri, dan ajarkan anak-cucumu nanti bahwa kasta hanyalah tembok dari tanah, tapi pikiran adalah langit yang tak bertepi.
‎Teruslah menyala, meski di balik pingitan sekalipun.”

(Jepara, November 1903)

‎Aku terdiam, mataku panas. Di tengah aroma kain batik dan bising jalanan Rembang, aku merasa seolah hembusan angin sore itu membawa wangi melati dan kayu jati dari masa lalu. Aku menatap Oma, lalu menatap kertas di tanganku. Sekarang aku tahu mengapa namaku Sekar Sari. Aku paham mengapa sejarah selalu memikatku dan mengapa api rasa ingin tahu ini terus membara di dadaku. Itu semua karena di dalam nadiku, masih mengalir api yang dulu pernah dinyalakan oleh seorang bangsawan untuk seorang perempuan biasa bernama Sari. Dan sore itu, di jalanan Rembang, aku seperti mencium kembali samar aroma melati dari kamar pingitan yang lama terkunci.

 

 

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *