Ketika Bertahan Menjadi Iman

Di jeda yang sunyi,

manusia belajar pulang

dari gaduh dunia

yang gemar menuntut kuat

tanpa memberi makna.

Lelah tak lagi dipersoalkan sebabnya,

ia diterima sebagai isyarat

bahwa jiwa pun berhak berhenti

untuk mengingat arah.

Pernah ada hampir menyerah,

bukan karena harapan mati,

melainkan karena terlalu lama

menanggung luka tanpa cahaya.

Di tempat jeda ini,

bertahan tidak dimuliakan sebagai keangkuhan,

melainkan sebagai kerendahan hati

untuk tetap setia pada nilai

saat segalanya goyah.

Diam menjadi zikir,

sabar menjelma penopang,

dan jeda berubah menjadi hikmah

agar langkah tidak tersesat.

Bertahan akhirnya bukan sekadar pilihan,

ia tumbuh sebagai iman

yang menuntun hati

tetap manusiawi

di hadapan takdir.

 

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *