CSSMORA UNUSIA: Rumah Pertama di Tanah Perantauan

Aku masih ingat hari pertama menginjakkan kaki di tanah rantau ini. Langit sore berwarna jingga, udara lembut menyapu wajahku, tapi hatiku penuh dengan kegundahan. Koper berat di tangan terasa seperti membawa seluruh keraguan dan kecemasan tentang masa depan. Aku sendirian, jauh dari rumah, jauh dari wajah-wajah yang kukenal. Tapi, ternyata tidak sepenuhnya begitu.

“Hei, selamat datang! Capek, ya? Sini, aku bantu bawain,” suara ramah menyapaku. Aku menoleh, mendapati seorang kakak tingkat dengan senyum hangat menyodorkan tangannya. Linka, namanya. Dan di belakangnya, beberapa wajah lain ikut tersenyum, seperti keluarga yang menyambut anggota barunya pulang.

Malam pertama di asrama, aku pikir akan menjadi malam penuh kesepian. Tapi justru aku menemukan diriku di tengah obrolan hangat di teras depan asrama, berbagi cerita bersama orang-orang yang baru kukenal beberapa jam lalu. “Di sini kita bukan cuma teman, tapi saudara,” ujar Hani, seorang kakak tingkat yang duduk di sampingku. “Kita saling jaga, saling dukung.”

Hari-hari berlalu, dan aku mulai merasakan betapa CSSMoRA bukan hanya sekadar organisasi penerima beasiswa santri. Mereka adalah tangan-tangan pertama yang menyambutku ketika aku belum tahu harus ke mana. Mereka adalah bahu tempatku bersandar saat tugas menumpuk, saat rindu rumah tak tertahankan. Dari kajian rutin yang berujung diskusi panjang, dari berbagi makanan sederhana di kantin, hingga belajar bersama di perpustakaan, setiap momen membuatku semakin yakin: aku tidak sendirian.

Namun, suatu malam, di bawah langit yang diterangi bulan sabit, Caca, salah satu teman baruku, berkata dengan nada serius, “Kita ini bukan sekadar kumpulan santri di perantauan. Kita punya tanggung jawab untuk terus menjangkau mereka yang datang setelah kita. Jangan sampai ada yang pernah merasa sendirian.”

Kata-kata itu menancap di benakku. Aku teringat diriku sendiri di hari pertama, dengan koper dan hati yang penuh tanya. Dan kini, aku berdiri di sisi yang berbeda, siap menjadi orang yang menyambut, menggenggam tangan, dan berkata, “Kamu tidak sendiri, kami ada di sini.”

Senja kembali menyapa, langit berubah emas. Aku duduk di halaman asrama, dikelilingi wajah-wajah yang dulu terasa asing, tapi kini menjadi bagian dari hidupku. Aku tersenyum, bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan ruang-ruang untuk tumbuh, tempat aku belajar memahami arti kebersamaan. Dan terima kasih untuk orang-orang hebat di CSSMoRA UNUSIA, yang selalu memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk terus belajar berkembang bersama. Aku punya keluarga di sini, keluarga yang kusebut CSSMoRA.

 

 

Share the Post:

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *