Critical Thinking

Di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat, mahasiswa dihadapkan pada arus informasi yang begitu cepat dan beragam. Informasi dapat dengan mudah diakses melalui media digital, namun tidak semuanya memiliki kebenaran dan nilai yang dapat dipertanggungjawabkan. Kondisi ini menuntut mahasiswa untuk tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu menyaring, menganalisis, dan menilai informasi secara bijak. Oleh karena itu, kemampuan critical thinking atau berpikir kritis menjadi sangat penting untuk dimiliki oleh mahasiswa. Berpikir kritis bukanlah sikap sinis atau kebiasaan mencari kesalahan, melainkan suatu kemampuan intelektual yang membantu seseorang memahami informasi secara mendalam dan rasional. Dengan berpikir kritis, mahasiswa dapat mengambil keputusan yang tepat serta menghindari sikap ikut-ikutan tanpa pertimbangan yang matang.

APA ITU CRITICAL THINKING?

            Critical thinking (berpikir kritis) merupakan kemampuan seseorang dalam menganalisis, mengevaluasi, dan mensintesis informasi secara objektif dan logis. Berpikir kritis tidak berarti menolak semua informasi, tetapi menempatkan informasi tersebut pada proses penilaian yang rasional sebelum diterima atau dijadikan dasar tindakan.

Tujuan dari berpikir kritis adalah untuk membantu seseorang memecahkan masalah, menghindari bias, serta berpikir secara lebih rasional dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam konteks akademik dan profesional. Dengan kemampuan ini, seseorang tidak mudah terpengaruh oleh opini yang belum tentu benar atau informasi yang menyesatkan.

MENGAPA  BERPIKIR KRITIS PENTING BAGI MAHASISWA ?

Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki mahasiswa di abad ke-21. Dalam dunia akademik, berpikir kritis membantu mahasiswa memahami materi perkuliahan secara lebih mendalam. Mahasiswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga mampu mengajukan pertanyaan, mengaitkan konsep, serta menarik kesimpulan berdasarkan data dan fakta.

Selain menunjang keberhasilan akademik, berpikir kritis juga berperan penting dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis akan lebih bijak dalam menyikapi informasi, terutama di era digital yang rentan terhadap hoaks dan berita palsu. Sikap kritis membantu mahasiswa mengambil keputusan secara bertanggung jawab dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan lingkungan.

Pengembangan kemampuan berpikir kritis dapat dilakukan melalui berbagai metode pembelajaran, seperti diskusi, studi kasus, dan pembelajaran berbasis masalah. Dalam hal ini, peran dosen sebagai fasilitator sangat penting untuk menciptakan suasana belajar yang mendorong mahasiswa aktif berpikir dan berpendapat.

LANGKAH LANGKAH DALAM BERPIKIR KRITIS

Untuk menjadi seorang pemikir kritis, terdapat beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan ketika menerima informasi baru.

Langkah pertama adalah mengidentifikasi sumber informasi, yaitu dengan mempertanyakan siapa yang menyampaikan informasi tersebut, apa otoritasnya, serta apakah terdapat kepentingan tertentu di baliknya.

Langkah kedua adalah menganalisis argumen yang disampaikan. Pada tahap ini, perlu diperhatikan apakah kesimpulan didukung oleh bukti yang kuat atau hanya didasarkan pada emosi semata. Selanjutnya, penting untuk mempertimbangkan sudut pandang lain dengan membuka diri terhadap pendapat yang berbeda.

Langkah terakhir adalah mengevaluasi konsekuensi dari informasi tersebut. Mahasiswa perlu memikirkan dampak jangka panjang apabila informasi tersebut dipercaya dan dijadikan dasar tindakan.

HAMBATAN DALAM BERFIKIR KRITIS

Dalam penerapannya, berpikir kritis sering kali menghadapi berbagai hambatan. Salah satunya adalah bias konfirmasi, yaitu kecenderungan seseorang untuk hanya mencari informasi yang sesuai dengan keyakinannya sendiri dan mengabaikan pandangan yang berbeda. Hambatan lainnya adalah pengaruh emosi yang berlebihan, baik itu marah, senang, maupun sedih, sehingga seseorang sulit berpikir secara jernih. Selain itu, kekeliruan logika seperti ad hominem dan straw man, kemalasan mental, serta pengaruh sosial juga dapat menghambat kemampuan berpikir kritis seseorang.

TIPS MELATIH AGAR DAPAT BERPIKIR KRITIS

  1. Tanamkan dipikiran untuk selalu menanyakan “bagaimana” dan “mengapa” sehingga dapat menimbulkan rasa penasaran dan mau berpikir kritis.
  2. Baca dari sumber yang berbeda dan bertentangan, tidak hanya membaca dari satu sumber saja namun membaca dari sumber-sumber yang lain juga sehingga tidak menimbulkan bias konfrimasi.
  3. Bedakan antara opini dan fakta, kalo itu memang sudah fakta maka tidak perlu untuk mencari informasi lagi namun jika itu opini maka cari dari opini yang lain karena biasanya cara orang untuk beropini itu berbeda-beda.
  4. Berdebatlah dengan diri sendiri, melawan pendapat kita dan membela pendapat yang berbeda dari sudut pandang yang berlawanan dengan kita.
  5. Diskusikan dengan orang lain yang memiliki pendapat yang berbeda agar tau sudut pandang dari orang lain itu.
  6. Refleksi, mencari tau info apa yang mungkin telah kita lewatkan sehingga mengetahui apa yang telah terlewatkan

ISU YANG BEREDAR PADA ZAMAN SEKARANG

Di zaman sekarang berkembangnya media era digital semakin berkembang pesat banyak sekali fenomena ikut-ikutan dalam tren yang sedang viral di media sosial menunjukkan kurangnya penerapan berpikir kritis. Kebanyakan mayoritas remaja mengikuti tren atau tantangan yang sedang populer di TikTok dan Instagram tanpa memahami tujuan, manfaat, maupun risiko yang mungkin ditimbulkan dampak negatif,seperti  joget-joget dan velocity yang tidak ada nilai education. Mereka melakukan hal tersebut karena takut ketinggalan tren atau ingin mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar. Padahal, tanpa berpikir kritis, tren tersebut bisa berdampak negatif, baik bagi keselamatan, kesehatan, maupun nilai-nilai pribadi.

Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan agar seseorang mampu menilai apakah suatu tren layak diikuti atau sebaiknya dihindari. Boleh mengikuti tren asalkan dalam suatu tren itu bernilai bermanfaat untuk orang sekitar dan tidak berdampak negatif.

Jadi, Kesimpulan yang beredar dalam berpikir kritis itu bukan bakat bawaan, tapi keterampilan yang bisa diasah dan juga membutuhkan keberanian untuk mempertanyakan, termasuk mempertanyakan keyakinan sendiri. Berpikir kritis itu tools terpenting untuk menjadi mahasiswa yang mandiri, intelek, dan bertanggung jawab jadi mulai dari hal kecil, dari memilih berita hingga menganalisis pelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Brookfield, S. D. (2012). Teaching for Critical Thinking: Tools and Techniques to Help Students Question Their Assumptions. Jossey-Bass.

Cottrell, S. (2017). Critical Thinking Skills: Effective Analysis, Argument and Reflection. Palgrave Macmillan.

Ennis, R. H. (2011). The Nature of Critical Thinking: An Outline of Critical Thinking Dispositions and Abilities. University of Illinois.

Facione, P. A. (2011). Critical Thinking: What It Is and Why It Counts. Insight Assessment.

Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus and Giroux.

Nasrullah, R. (2016). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *