“Di pasar mangu, Kecamatan ngemplak, Boyolali, tempat orang-orang mencari rezeki dan nafkah, seorang nenek paruh baya kepergok mencuri dua kilogram bawang putih. Nilainya tidak sampai seratus ribu rupiah. Tapi reaksi yang ia terima jauh lebih mahal dari itu dipukuli, dikeroyok, hingga wajahnya bersimbah darah. Lantai pasar berubah menjadi saksi bisu kekejaman manusia terhadap manusia lainnya. Dan kita hanya bisa bertanya: di mana letak hati nurani kalian?
Kita hidup di masyarakat yang katanya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, solidaritas, dan gotong royong. Tapi hari itu, semua nilai itu lenyap terganti oleh amarah, kesombongan moral, dan dorongan untuk menjadi “penegak kebenaran” tanpa belas kasih. Kalian tidak tahu mengapa sang nenek mencuri. Kalian tidak tahu apa yang ia alami sebelum memutuskan mengambil bawang itu. Mungkin cucunya kelaparan. Mungkin ia sudah berhari-hari tidak makan. Tapi kalian terlalu cepat menghakimi, terlalu cepat merasa benar, dan terlalu cepat lupa bahwa kalian juga manusia yang suatu hari bisa berada di posisi yang sama.
Kami tidak membenarkan mencuri. Tapi yang kami lawan adalah ketidakadilan yang lahir dari tangan-tangan yang merasa berhak menghukum. Kalau memang ia bersalah, mengapa tidak serahkan ke polisi? Jika ia lansia dan terlantar, mengapa tidak laporkan ke Dinas Sosial? Mengapa jalan kekerasan yang kalian pilih?
Kalian bisa mengatakan nenek itu salah, tapi belum tentu Tuhan menyalahkannya. Tuhan tahu isi hati dan niat seseorang. Mungkin bagi-Nya, jeritan lapar lebih besar nilainya daripada kesalahan kecil dalam hukum manusia. Maka siapa kita hingga merasa lebih tahu?
Bayangkan jika itu ibu kalian. Bayangkan jika nenek itu adalah bagian dari keluarga kalian. Apakah kalian akan diam melihatnya dipukul dan diseret hanya karena ia ingin makan?
Jadi……
Hukum tidak boleh berdiri tanpa hati nurani.
Keadilan tanpa belas kasih hanya akan melahirkan kekejaman.
Dan manusia yang kehilangan empati,
adalah manusia yang kehilangan jiwanya.
Mari kita belajar menjadi lebih manusia. Jika seseorang jatuh dalam kesalahan, ulurkan tangan untuk mengangkat, bukan untuk menghukum. Karena suatu hari, mungkin kita yang akan butuh belas kasih itu.
Sumber Foto :
https://www.instagram.com/p/DJW3GQ2TIet/?igsh=ODRuOHB0OHlmZHVm
