CSSMoRA Dan Seni Bertahan: Ketika Menyerah Pernah Terlintas, Tapi Tidak di Pilih

Bertahan sering kali di artikan sebagai sesuatu yang sederhana seperti tetap tinggal, tidak pergi, atau melanjutkan apa yang sudah dimulai. Namun, pada kenyataan yang ada, bertahan tidak selalu mudah di lakukan. Ia lahir dari pertentangan batin, rasa lelah yang menumpuk, dan rasa ragu yang selalu menggerogoti semangat. Di CSSMoRA ini aku belajar bahwa menyerah bukalah sebuah pilihan yang indah. Ia memang pernah terlintas bersama penyesalan, namun ia bukan keputusan akhir yang akhirnya di pilih.

CSSMoRA bukan hanya sebuah organisasi. Ia adalah sebuah ruang tempat bertemunya harapan dan kenyataan, antara idealisme dan batas kemampuan diri. Di sini aku datang membawa ekspektasi besar, ingin berkembang, ingin berkontribusi, ingin di kenal. Tapi seiring berjalannya waktu aku mulai menyadari, jalannya tak selalu  mulus. Ada banyak tekanan, tuntutan, dan konflik sehingga timbul rasa gagal di dalam diri.

Di momen-momen perjalanan ini timbullah rasa ingin menyerah yang hampir tak bisa ditolak. Lelah mental, lelah fisik, lelah dengan masalah kuliah, lelah dengan masalah pribadi, juga lelah berperang dengan rasa malas yang semakin mengakar hingga rasa tak mampu kerap datang menghampiri. Pada saat seperti ini sering timbul rasa sesal dan ingin menyerah. Bahkan sering kali muncul pertanyaan aneh seperti “kenapa dulu malah memilih jalan ini padahal masih ada jalan lain?”

Namun terkadang hal-hal kecil seperti obrolan sederhana dan kehadiran anggota satu sama lain membuat rasa ingin menyerah itu pudar. Di sana aku sadar kalau aku tidak berjalan sendiri, tempat ini bukan tempat untuk kuat tapi tempat untuk saling menguatkan. Dan pada akhirnya, bertahan merupakan sebuah seni. Ia menuntut adanya kemampuan beradaptasi, menerima kekurangan, dan berdamai dengan kegagalan.

 

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *