Jalan berliku tanpa tujuan,
langkah-langkah gontai menapak keraguan,
secercah harapan membalut hati yang sendu,
bagai kompas patah, enggan menunjuk arah waktu.
Sunyi membungkam dalam riuh dunia,
saat raga dipenuhi bising tanpa makna.
Suara yang semakin kelu dan pilu memenuhi beribu sesak yang tidak tau malu menyusup ke dalam jiwa.
Namun, di ujung lorong gulita yang panjang,
cahaya kecil menyambut dengan tenang.
Antusias memecah pekatnya malam,
mengajak harap menari dalam diam.
Ekspektasi dan realita berpadu dalam jamuan,
menjadi santapan hari-hari penuh pertanyaan.
Di antara gelap dan terang yang berselang,
kutemukan arah… meski belum datang.
