Sejak tahun 2005 Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) hadir untuk para santri berprestasi, agar
masyarakat digital tidak memandang santri dengan hanya sebelah mata saja. Mereka sering memandang
bahwa santri adalah orang yang tidak tahu dengan perkembangan teknologi sekarang. Dengan adanya
PBSB, tentu menjadi wadah pembuktian kepada masyarakat bahwa santri juga bisa mengikuti
perkembangan zaman, santri juga bisa berprestasi bukan hanya anak SMA biasa saja yang bisa
menorehkan prestasi.
Community of Santri Scholars of Ministry of Religion Affairs atau disingkat dengan CSSMoRA adalah
organisasi yang mewadahi santri yang lolos PBSB yang dinaungi oleh Kementrian Agama Republik
Indonesia (Kemenag RI). Organisasi ini bertujuan untuk memperkuat tali silaturrahmi antar sesama
awardee PBSB dan sebagai rumah bagi anggotanya. Didalam sebuah organisasi terdapat paradigma
yang tidak bisa ditinggalkan, karena paradigma adalah titik acuan atau kerangka berpikir sebuah
organisasi atau komunitas dalam memahami dunia, memecahkan suatu masalah, dan berkembang. Jika
didalam organisasi tidak ada paradigma, maka organisasi tersebut tidak akan ada tujuan berdirinya dan
arah tempuh ke jalan yang benar. Di CSSMoRA ada tiga paradigma yang harus direalisasikan oleh
setiap masing-masing individu anggota CSSMoRA, yaitu kritis, kolaboratif, dan progresif.
Setiap manusia di seluruh dunia, jika tidak memiliki daya berpikir kritis maka dia akan tersesat dijalan
hidupnya sendiri. Dia akan mudah sekali ditipu sama orang. Semua informasi yang masuk dia terima
tanpa ingin tahu dari mana informasi itu berasal. Ketika ada masalah yang menimpanya, dia selalu
berpikir dangkal dengan cara mengakhiri hidupnya. Hal demikian semestinya tidak etis untuk anggota
CSSMoRA. Anggota dituntut untuk mampu mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan
mensintesis suatu masalah atau informasi yang diterimanya. Sangat disayangkan jika anggota
CSSMoRA ikut andil dalam penyebaran berita hoaks, informasi-informasi tidak jelas dari mana
datangnya. Justru anggota CSSMoRA harus bisa menganalisis segala informasi yang masuk di platform
media sosial, sehingga bisa menjadi informasi yang benar.
paradigma kritis ini bisa dikaitkan dengan firman Allah pada alqur’an surah ali-Imran ayat 190-191
yang berbunyi
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ (191)النَّارِ
Dengan tafsir wajiz berikut : Orang-orang berakal yaitu orang-orang yang senantiasa memikirkan
ciptaan Allah, merenungkan keindahan ciptaan-Nya, kemudian dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat
kauniyah yang terbentang di jagat raya ini, seraya berzikir kepada Allah dengan hati, lisan, dan anggota
tubuh. Mereka mengingat Allah sambil berdiri dan berjalan dengan melakukan aktivitas kehidupan.
Mereka berzikir kepada-Nya seraya duduk di majelis-majelis zikir atau masjid, atau berzikir kepada
Nya dalam keadaan berbaring menjelang tidur dan saat istirahat setelah beraktivitas, dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi sebagai bukti kekuasaan Allah yang Mahaagung seraya
berkata, “Ya Tuhan kami! Kami bersaksi bahwa tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia
melainkan mempunyai hikmah dan tujuan di balik ciptaan itu semua. Mahasuci Engkau, kami bersaksi
tiada sekutu bagi-Mu. Kami mohon kiranya Engkau melimpahkan taufik agar kami mampu beramal
saleh dalam rangka menjalankan perintah-Mu, dan lindungilah kami dari murka-Mu sehingga kami
selamat dari azab neraka.
Paradigma Kolaboratif di dalam organisasi CSSMoRA, bukan sekedar kerja bareng, tapi cara kita
tumbuh dan bergerak bersama-sama. Setiap anggota punya peran dan ruang untuk berkontribusi, baik
lewat ide, tenaga, maupun sudut pandang yang berbeda. Dari sinilah banyak gagasan menarik yang
akhirnya lahir dan berkembang. Kerja sama antar anggota dan antar bidang jadi kunci dalam
menjalankan berbagai program. Komunikasi yang terbuka dan saling percaya antar anggota membuat
setiap proses terasa lebih ringan, karena semua dijalani bersama, bukan sendiri-sendiri.
Perbedaan latar belakang justru jadi kekuatan yang saling melengkapi. Dengan budaya kolaboratif ini,
organisasi CSSMoRA ini ingin menciptakan lingkungan yang nyaman, suportif, dan penuh semangat
kebersamaan. Bukan hanya soal menyelesaikan program kerja, tapi juga membangun rasa kekeluargaan
dan solidaritas antar anggota agar bisa terus melangkah maju bersama melalui organisasi CSSMoRA.
Seperti yang tertera pada salah satu dari sekian banyaknya hadits yang membahas mengenai kolaboratif
ini مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ yang memiliki makna Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutupi
(aibnya) pada hari kiamat.(HR.Muslim dari Ibnu Umar).
Dalam berorgaganisasi, Paradigma progresif menjadi salah satu langkah utama. Progresif
mengedepankan semangat perubahan, pembaruan, dan keberanian menghadapi tantangan zaman,
masalah sosial tanpa meninggalkan nilai pesantren dan kebangsaan sebagai pondasi utama CSSMoRA.
Santri dipandang harus terus berkembang, adaptif, dan peka terhadap realitas sosial yang semakin rumit.
Dalam paradigma ini, progresif dapat mengedepankan nilai-nilai pesantren seperti keilmuan, adab, dan
pengabdian yang menyesuaikan di era saat ini. Contohnya, Dakwah dan pengabdian tidak hanya
dilakukan secara klasik, tetapi juga melalui media digital, riset, dan program pemberdayaan masyarakat
yang tentunya para anggota CSSMoRA harus bedampak di lingkungan organisasi dan juga kehidupan
sehari-hari.
Paradigma progresif juga mendorong CSSMoRA untuk mencetak kader yang unggul secara moral,
intelektual, dan profesional yang dapat di lakukan melalui pelatihan, diskusi ilmiah, serta penguatan
sumber daya anggota. Dengan langkah kecil yang konsisten dan semangat belajar berkelanjutan,
CSSMoRA diharapkan menjadi organisasi yang dinamis serta melahirkan mahasantri yang mampu
berkontribusi nyata bagi umat dan bangsa.
Sebagai sebuah gerakan mahasantri, CSSMoRA menjadikan paradigma kritis, kolaboratif, dan progresif
sebagai landasan dalam berpikir dan bergerak. Paradigma kritis membentuk anggota agar peka, berani
bertanya, mengungkapkan pendapat, dan tidak mudah menerima informasi yang sumbernya tidak
diketahui (hoax). Paradigma kolaboratif menegaskan pentingnya kerja sama, saling menguatkan, dan
bergerak bersama demi mencapai tujuan yang lebih besar. Sementara itu, paradigma progresif
mendorong keberanian untuk terus berkembang, berinovasi, dan menyesuaikan diri ditengah tantangan
zaman.
Ketiga paradigma ini saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Dengan berpikir kritis, bergerak
bersama, dan melangkah maju secara berkelanjutan, CSSMoRA diharapkan mampu menjadi ruang
tumbuh bagi mahasiswa santri yang berilmu, berakhlak, dan berdaya guna. Pada akhirnya, paradigma
ini bukan hanya menjadi konsep, tetapi menjadi arah nyata bagi CSSMoRA dalam memberi kontribusi
bagi umat, bangsa, dan masa depan.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim. Surah Ali-Imran Ayat 190-191.
Community of Santri Scholars of Ministry of Religion Affairs (CSSMoRA). (n.d.). Profil dan Paradigma Organisasi: Kritis, Kolaboratif, Progresif.
Kementerian Agama Republik Indonesia. (2005). Program Beasiswa Santri Berprestasi(PBSB). Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren.
Kementerian Agama RI. (2022). Tafsir Wajiz: Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
Kuhn, T. S. (1962). The Structure of Scientific Revolutions. University of Chicago Press.
Muslim, I. (n.d.). Shahih Muslim. (Hadis dari Ibnu Umar tentang tolong-menolong sesama muslim)
