“Kebahagiaan Yang Fana”

Kehangatan mentari kian terpancar menebus cakrawala, kicauan burung-burung terdengar begitu syahdu mengisyaratkan arti dari ketentraman, canda tawa dari sebuah keluarga kecil begitu damai terdengar seperti tiada batas yang menghalangi kebahagiaan mereka. Namun, semua itu kini telah hancur disebabkan oleh orang-orang yang haus akan kekayaan. Keindahan alam kami direnggut untuk memenuhi hasrat para penguasa-penguasa yang serakah.

Pagi itu, terdengar sayup-sayup hujan. Aku terbangun dari tidur yang lelap, mataku langsung tertuju ke arah jam.

“Ohh, masih jam enam pagi! lagian diluar juga hujan lebat, bisalah ya sekali-kali gak berangkat dulu”. Alangkah beratnya tubuhku harus melawan gaya gravitasi kasur yang begitu kuat, akupun menghempaskan tubuhku ke kasur untuk melanjutkan mimpi indahku.

Dari kejauhan terdengar dentuman langkah kaki yang sangat menggelegar.

“Duarrrrr…..” suara dobrakan pintu yang amat keras. “Luthfiiiii   , kenapa jam segini masih

tidurrrrrr cepat sana siap-siap berangkat kesekolah” teriak ibunya dengan nada tinggi. Jantungku berdegup kencang “T-tapi kan di luar hujan bu” jawabku, “Udahhh jangan banyak alasan ada payung di teras pakai itu aja”. Dengan berat hati akupun beranjak dari mimpi yang indah, aku segera bersiap-siap ke sekolah namun hujan turun begitu deras bagaikan peluru yang siap menembus badan.

“Hati-hati ya nak di jalan” teriak ibuku dari dalam ,“Iyaaa buk….” sahutku. Siapa sangka ucapan itu adalah ucapan terakhir yang ku dengar dari ibuku.

Tetesan-tetesan peluru sudah di depan mata, aku harus bisa melewati penghalang ini dengan mengerahkan seluruh tenaga. Aku berjalan dengan hati-hati ditemani payungku yang mungil, kami mesti bertarung dengan kuatnya angin dan derasnya hujan. Setelah melalui lika-liku yang panjang, akhirnya aku tiba di gerbang sekolah. Suasana tampak sepi, hanya terlihat pak satpam yang sedang duduk di kantor pos. Karena hujan yang cukup deras aku segera melangkah masuk melewati gerbang, setibanya di kelas dengan sigap aku menutup dan menggantung payung di paku tiang depan kelas. Ketika masuk, aku terkejut dengan sosok anak laki-laki berkacamata yang sedang duduk di kursi paling pojok.

“Astaghfirullah, itukan Deo korban tanah longsor kemarin bukannya dia udah meninggal??” tanyaku dalam hati. Memang beberapa hari yang lalu terjadi tanah longsor yang menimpa kawasan komplek rumah Deo,dikarenakan rumahnya yang rawan dan bersebrangan dengan lereng curam dekat tebing. Pada akhirnya dia menjadi korban bencana alam itu.

Seketika mulutku terkunci rapat dan membisu tak mampu berkata-kata, kakiku membeku tak sanggup bergerak. Deo berjalan mendekat, aku ingin sekali berlari dan teriak tapi rasanya tak berdaya hanya lantunan ayat suci Al-qur’an yang hanya bisa kubaca dalam hati.

“Luthfiiiiii” suara itu seperti terbisik di telingaku.

 

“Ikut aku yuk..” lanjutnya dengan nada lirih. Aku hanya memberi isyarat menggelengkan kepala. Dia semakin dekat dengan menampakkan wujud aslinya ketika ia ditemukan sudah tak bernyawa pasca kejadian itu.

“Innalillah, separah inikah kamu waktu itu” ucapku dalam hati

“Sebentar lagi kalian juga akan menyusulku kok” ucapnya tepat langsung dihadapan wajahku. Keringat dingin pun bercucuran karena harus melihat wujudnya yang sudah tidak selayaknya manusia.

“Manusia itu tamak ya, aku mati sia-sia karena ulah mereka” lanjutnya.

Energiku mulai terkuras habis mendadak kepalaku pusing dan tubuh yang semakin melemas, “bruuukk” aku masih sadar ketika tubuhku sudah terjatuh ke laintai namun beberapa detik setelahnya penglihatanku menghitam dan sudah tak sadarkan diri.

 

 

“Luthfi…. bangun fi” terdengar suara samar-samar ditelinga, aku perlahan membuka mata dan menyadari diriku sudah ada di ruang UKS.

“Alhamdulillah akhirnya sadar juga, hampir satu jam kamu tidak sadarkan diri nak” ucap ibu petugas UKS.

“Emang saya kenapa bu” tanyaku penasaran.

“Tadi kamu pingsan nak, untung teman-temanmu bawa kamu kesini” “Sebenarnya kamu kenapa nak, kok tiba-tiba bisa pingsan?” lanjutnya

Akupun mulai menceritakan semua kejadian tadi yang telah ku alami di kelas.

“Ohh…. mungkin itu hanya halusinasi kamu saja karena lagi kecapean, lagian mana mungkin pagi-pagi ada setan” jawab ibu UKS.

Ya betul juga, akupun antara percaya dan tidak percaya dengan kejadian tadi, tapi… ya begitulah ini adalah pengalaman terburuk yang pernah terjadi dalam hidupku. Namun masih terngiang-ngiang dikepalaku maksud dari ucapan yang keluar dari mulut Deo tadi. Apakah dia memberi sebuah pertanda? atau hanya iseng saja?.

Hujan mulai mengecil, tetesan gerimis menciptakan suara yang begitu khas ketika menerpa genteng klinik yang sudah mulai rapuh. Aku meminta izin kepada ibu penjaga UKS untuk mengikuti pelajaran karena sudah merasa sedikit membaik. Aku berjalan dengan hati-hati, belum sampai tanganku memegang gagang pintu terdengar teriakan orang-orang dari luar.

“Banjirrrr besarrrr…….. banjjir besarrrr…… ”

Tepat ketika aku membuka pintu “Brukkk” air deras menerpa tubuhku setelah itu entahlah aku tidak tau apa yang terjadi.

“Luthfii… sini makan, ibu udah masakin makanan kesukaan kamu nih semur ayam” “Yeayyy makasih buk,.. ibu emang yang terbaik”

 

“Iya dong… ajak dulu ayah dan adekmu makan” “Ayahh… dek Sarah……………………… ayok makan sama sama”

“Ayokk ayah udah laper nih, masak apa ibu hari ini”

“Ibu hari ini masak makanan kesukaan abang.. semur ayam” “Wahhh pasti enak nihh”

“Iya dong siapa dulu yang masak, ibuku” (ucap sarah) “Eh mana ada, itu ibuku yaa……………………… kamu kan anak ayah”

“Udah udah jangan berantem, kalian anak ibu dan ayah” “Huuuu, rasain tu abang”

“Awas nanti kamu yaa”

“Udah lama ya kita ga makan sama sama”

“Iyalah kan ayah sibuk kerja, jadi kami bertiga terus yang makan” “Hehehe kan ayah kerja juga buat kalian”

“Yah, bulan depan abang masuk sekolah… beliin baju sekolah ya”

“Iyaa, besok kita ke pasar ya”’

“Aku mau ikut juga,mau beli mainan” sahut sarah

“Jangan yah, nanti adek beli yang macam-macam lagi” “Engga kok………………….. aku cuma mau beli satu mainan aja”

“Aduhh kalian ini… abang jangan suka jailin adeknya dong” timpal ibu

“Engga kok bu, emang dia aja yang mulai duluan” “Kok aku, kan abang yang suka nyari masalah”

“Udah..cukup-cukup keburu dingin nanti makanannya, abang baca doa dulu” “Baik buk”

Aku tersadar, ternyata itu semua adalah ingatan dan kenangan di waktu kecil yang hanya tergambarkan dalam mimpi. Perlahan-lahan membuka mata, aku tidak tau ada dimana kulihat banyak alat terpasang ditubuhku, tampak banyak sekali wajah asing yang sama sekali tidak ku kenal. Dengan suara yang lemah aku coba untuk memanggil ibuku.

“Ibu…..ibu… ” tapi tidak ada sahutan yang terdengar.

“Nak..kamu udah sadar” ucap seorang yang duduk disampingku, sepertinya dia seorang dokter tampak dari baju yang ia kenakan.

“Aku dimana” tanyaku dengan nada lemah. “Kamu lagi di tenda pengungsian nak”

 

Ku amati sekelilingku, terlihat banyak sekali orang yang terbaring di dalam tenda. Ada yang tak sadarkan diri, ada yang menangis dan bermacam-macam. Apa yang sebenarnya terjadi? Dimana keluargaku?… ketika aku hendak bertanya kepada sang dokter seketika pandanganku buram dan kepalaku sangat pusing, akupun kembali tak sadarkan diri lagi.

Tidak tahu sudah berapa lama akhirnya akupun tersadar, rasanya kepalaku begitu berat ketika aku membuka mata tampak dokter yang duduk seperti mengamati keadaanku.

“Nak kamu udah sadar”

“Iya dok” jawabku, aku perlahan bangkit dan duduk. “Namamu siapa?”

“Luthfi dok” terjadilah dialog singkat antara aku dan dokter. Tapi masih belum terjawab apa yang sebenarnya terjadi, akupun memberanikan diri untuk bertanya.

“Maaf dok, sebenarnya apa yang telah terjadi” tanyaku penasaran.

“Ada banjir besar yang menghantam tempat kalian nak, semua bangunan hancur dan sekarang tim SAR lagi melakukan pencarian korban bencana. Alhamdulillah untungnya kamu selamat”

“Tapi keluarga saya mana dok?’’

“Untuk itu kami belum tau, tapi kami sudah menyebar informasi keadaanmu jika ada yang mengenalmu maka mereka akan kesini menghampirimu”.

“Kenapa ini semua bisa terjadi dok?” tanyaku dengan nada sedih.

“Yaa kamu taukan proyek pemerintah, hutan kalian semua ditebang dan digunduli alhasil ketika hujan turun tidak ada lagi pohon yang bisa menyerap dan menampung air sebegitu banyaknya. Maka terjadilah arus deras yang tak terkendali”.

“Ya begitulah nak, jika kita berbuat jahat dengan alam maka alam pun juga berbuat jahat atas apa yang telah kita lakukan padanya” lanjut sang dokter.

Seketika aku teringat dengan ucapan Deo waktu itu, apakah ini yang dimaksudkan olehnya atau hanya kebetulan semata.

Aku menjalani hari-hariku dengan terbaring lemah di dalam tenda, tanpa listrik tanpa makanan yang mencukupi tapi aku sangat kagum dengan para tenaga kesehatan yang senantiasa sigap membantu kami dalam segala hal tanpa mengenal kata lelah. Rasa jenuh mulai menghampiriku rasanya mata ini ingin keluar melihat dunia luar, aku meminta bantuan kepada dokter untuk mengabulkan permintaanku. Sudah lama tak berjalan rasanya kakiku pun kaku, aku berjalan tertatih-tatih diiringi bantuan sang dokter. Alangkah terkejutnya diriku melihat semua bangunan sudah rata dengan tanah seperti sudah tidak ada lagi kehidupan. Siapakah yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian ini?.

Terlihat dari kejauhan orang-orang mengerumuni jasad yang baru ditemukan, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba kakiku melangkah maju karena penasaran dengan jasad yang ditemukan itu.

Ketika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri aku sangat mengenali mereka itu adalah ibuku,ayahku dan adikku mereka ditemukan masih dalam keadaan berpelukan erat. Astaghfirullah hancur rasanya hatiku, langsung ku peluk erat mereka tanpa memperdulikan

 

orang lain. Aku menangis sejadi-jadinya merasa tidak terima dengan takdir ini, kenapa harus keluargaku harus ikut jadi korban dalam bencana ini   Ya Allah begitu berat ujian yang kau

berikan kepada hamba tak sanggup lagi aku melihat keluarga kecilku yang sudah ditemukan dalam keadaan seperti ini.

Orang-orang langsung menarikku dan membawa jasad keluargaku. “IBU……..AYAH…….ADEK………” teriakku dengan suara yang sudah serak,

tubuhku rasanya sakit tak berdaya atas kejadian ini. Aku hanya bisa merenung meratapi nasibku

yang tinggal sebatang kara, impian-impian kecil yang sudah kami bangun dahulu kini hanya tinggal cerita belaka, rasa rindu akan keluarga kecilku sulit untuk ditahan hanya air mata yang tak terbendung menjadi pelampiasan rasa sakit ini. Dan sekarang yang harus ku lakukan adalah ikhlas atas semua kejadian ini.

Tapi mimpiku tak usai disini, meskipun aku hanya tinggal sebatang kara tapi aku harus membuktikan bahwa aku adalah orang yang kuat dan mampu berdiri sendiri tanpa belas kasih orang lain. Langkah selanjutnya adalah melanjutkan dan merekonstruksi ulang mimpi-mimpi kecil itu menjadi sebuah kenyataan. Ayahku, ibuku, adekku, semoga kalian tenang di alam surga.

Sekian……………………………

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *